9 Mei 2019
Bertahan adalah sama dengan Melangkah
Ini
sudah bulan ketiga aku mengajar, menjadi guru di MIN 1 Kota Madiun. Untuk saat
ini bertahan sama artinya dengan melangkah. Lha wong aku itu gak suka jadi guru
lho. Tapi kenapa keadaan sepertinya memaksaku untuk masuk ke dunia itu.
Sepertinya aku gak bisa maksimal mengajar. Alah embuhlah... jalani saja.
Persetan dengan semuanya. Bosan aku mendengar celotehan PNS dan PNS. Malas aku.
Aku jadi tidak mau lagi berbuat apa-apa. Toh hasilnya juga sama. Sudah
berkali-kali sebenarnya aku katakan dalam hati. Aku harus banyak bersyukur.
Rezeki bukan melulu soal gaji. Ia datang dari mana saja. Akan tetapi sepertinya
otakku selalu gagal menerimanya dengan tulus dan ikhlas. Selalu saja ada yang
mengganjal dan membuatku menjadi kikuk. Diskusi dengan orang lain pun rasanya
percuma. Paradigma berpikirnya sudah tidak senada. Jadi malah menimbulkan
perdebatan yang tak ada ujungnya.
Kenapa orang bisa menjadi hebat di bidangnya? Ya karena ia melakukan pekerjaannya dengan setulus hatinya. Ia mencintai apa yang ia lakukan. Sementara aku, untuk mengajar saja rasanya sudah malas. Aku tidak maksimal. Dosa juga ya aku. Tapi aku tak pernah bisa membendung perasaanku ini. Ia datang dengan sendirinya, mengalir begitu saja. Berbeda ketika aku melakukan pekerjaan di bidang kreatif. Teater misalnya. Ketika mengerjakannya seakan ide itu muncul begitu saja. Ia mengalir juga tanpa terbendung. Dalam otak rasanya begitu membuncah, berjubel minta dikeluarkan. Aku tak tahu dari mana datangnya. Ia ada dengan sendirinya. Bahkan ketika masih dalam bentuk ide, aku bahkan bisa melihat dengan jelas gambaran / pentas itu dalam kepalaku. Lengkap dengan dialog, gerak, musik, setting, dan tata lampu. Kenapa bisa begitu? Aku tak tahu. Tapi ketika dihadapkan pada materi-materi pelajaran untuk diajarkan dalam kelas, aku menjadi kebingungan. Aku hanya berusaha menyampaikan apa yang dituliskan di buku. Tanpa gairah, tanpa gambaran.
Dan untuk yang kesekian kalinya aku merasa aku ada di tempat yang salah. Di posisi yang salah, yang sama sekali tak pernah aku inginkan. Kenapa dulu aku mau kuliah di keguruan. Karena memang tidak ada pilihan lain. Aku dulu yang belum mengenal siapa aku. Aku terlambat. Aku hanya hidup ibarat air yang mengalir.
Separuh hati aku menjalani semuanya. Separuh hati aku mencoba untuk berjalan. Seakan rasanya jalan ini begitu terjal. Ya semua memang butuh perjuangan, akan tetapi bukan perjuangan seperti ini yang aku inginkan. Hidup memang tak selalu sesuai keinginan kita. Okelah... dan sekali lagi aku harus terima dengan kata-kata bijak yang selalu aku dengar dan baca.
Aku bisa bertarung mati-matian ketika melakukan dan mengerjakan hal kreatif. Aku sanggup dan aku mampu karena aku bisa. Tapi untuk menjadi guru dan mengajar di dalam kelas rasanya gairahku tak pernah ada. Duh Gusti... kesekian kalinya hatiku selalu berserah pada-Mu... aku hanya memohon mudahkanlah segala sesuatunya. Kalau saja waktu bisa berputar kembali. Kalau saja aku bisa mengulang hidupku, merestartnya, aku tentu akan lebih mengerti jalan mana yang harus kutempuh. Namun penyesalan selalu ada di belakang. Sudahlah, rasanya percuma setiap selalu berharap demikian.
Kita memang hidup dalam dunia yang terbangun dengan paradigma orang lain. Kita harus bisa menyesuaikan dengan tata nilai. Dan sekali lagi aku katakan persetan. Mereka tak pernah tahu hidupku.
Ini sudah bulan ketiga aku harus mengajar lagi.

0 komentar:
Posting Komentar