Senin, 08 Agustus 2016 0 komentar

Tentang

Mari kita mulai tulisan ini dengan “mau jadi apa?”. Ya... mau jadi apa adalah sebuah pertanyaan yang sebenarnya amat terlambat untukku yang sudah berumur kepala tiga. Di situlah kesalahannya. Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya jadi keinginan terbesar dalam hidup. Keinginan yang banyak orang menyebutnya passion. Aku berkali-kali mencoba untuk bertanya dalam hati kecil, kenapa dulu orang tuaku tak pernah membimbing untuk mengikuti apa yang menjadi keinginan terbesarku. Tetapi sudahlah, itu semua sudah terjadi. Dan sekarang, aku hanyalah mas-mas biasa saja dan belum menjadi apa-apa dan siapa-siapa.

Sejak kecil aku selalu takjub dengan sebuah karya seni. Aku menjadi tergila-gila ketika melihat pulpen dan kertas. Aku begitu bersemangat untuk menulis apa saja dan mecorat-coret. Dulu aku punya buku tulis bertumpuk-tumpuk yang isinya diary, puisi alay, quotes-quotes pribadi yang tidak jelas, cerita pendek, dialog drama super hero, dan gambaran komik karyaku. Ketika SMP, komik karyaku selalu beredar setiap hari jadi bahan bacaan teman-teman sekelas. Aku juga belajar alat musik gitar, mencoba membuat lagu yang kunyanyikan sendiri di kamar, meskipun pada akhirnya aku tahu kalau suaraku begitu buruk. Entahlah, ketika bersentuhan dengan hal-hal berbau kesenian seakan ada hentakan dari dalam yang rasanya tidak dapat dibendung.

Sayangnya apa yang ada di dalam sana tidak bisa terwadahi dengan baik. Aku harus berkuliah di perguruan tinggi keguruan yang pada dasarnya bukanlah keinginanku. Aku lakukan itu hanya karena sepertinya sudah tidak ada pilihan lain lagi. Selama bertahun-tahun aku merasa terjebak di tempat yang salah. Setelah lulus kuliahpun mau tidak mau harus bekerja sebagai guru. Bukan profesinya yang buruk, tetapi jauh di lubuk hati sana ada sesuatu yang tidak lengkap dan menjadi kosong. Dan akupun seakan terjebak bertahun-tahun di tempat yang sepertinya menurutku salah. Hingga pada satu titik aku merasa sudah tidak nyaman dan sudah tak bisa bertahan lagi. Dengan segala pertimbangan kuputuskan untuk resign. Resmilah... menjadi pengangguran sampai tulisan ini ada.

Diakui ataupun tidak, ketika memutuskan mau jadi apa di usia seperti ini, hal pertama yang menjadi pertimbangan adalah tentang nominal pendapatan. Bagaimana tidak? Di usia seperti sekarang, sudah pasti dituntut untuk sebuah tanggung jawab yaitu keluarga. Mungkin hal ini akan berbeda jika kesadaranku seperti ini muncul ketika masih berusia remaja.  

Di tengah-tengah perasaan terjebak pada keadaan, aku masih bersyukur karena mengenal teater. Dari sana kudapatkan disiplin ilmu tentang berkesenian. Mungkin jika tak mengenal teater, aku bisa mengalami kebuntuan nalar. Dan sampai saat ini aku masih terus berteater, meskipun jika kita kembali pada nominal pendapatan, belum bisa dikatakan cukup. Banyak hal yang sudah kucapai di teater, tapi aku masih belum menemukan siapa sebenarnya diriku. Pencapaianku yang menurut orang lain adalah keberhasilan, menurutku adalah sesuatu yang biasa saja. Toh nyatanya aku masih mas-mas biasa yang masih mondar-mandir, berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada suatu ketika, aku mengalami kejenuhan berteater. Aku ingin sesuatu yang baru, dan itu aku temukan lewat pulpen, kertas, juga keyboard laptop. Aku menjadi tahu bahwa dengan menulis aku seakan bisa mengontrol segala sesuatunya. Ketika imajinasi muntah begitu saja di kertas ataupun layar laptop ada sebuah kelegaan batin yang terasa. Tapi, sekali lagi ini sepertinya sudah terlambat. Dan pada akhirnya menulis juga akan berganti pada kesukaan yang lain.

Jujur, aku sama sekali tidak punya skema hidup untuk masa depan. Aku sadar itu, dan kesadaran itu juga muncul baru saja beberapa menit yang lalu ketika memulai tulisan ini. Masa bodohlah, aku akan mencoba sampai di mana kemampuanku. Jikapun nanti dalam beberapa bulan aku masih tetap seperti ini, setidaknya aku sudah punya rencana lain. Kembali ke kurungan yang di sana sudah ada makanan. Mungkin untuk selamanya. Dan terjebak di sana.


*  Tunggu dan bersabarlah... aku sebagai ayah dan suami sedang berusaha. 
 
;