Jumat, 10 Mei 2019

Buatmu, Buk...

Biarkan aku coba menerka apa yang terlintas dalam imajimu meski remang dalam pekat. Karena kamu adalah misteri, dan tetaplah begitu hari ini, esok, lusa dan ratusan tahun lagi. Siksa aku dalam kubangan tanya, biar aku terus mencarimu. Di tikungan-tikungan pikiranmu, dalam senyap tidurmu, ketika candaanmu, saat emosimu mulai mengasap kembali. Itulah kamu apa adanya.

Tengok lagi apa yang ada dalam angan kita. Mungkin ini dan itu, mungkin apa dan kenapa atau bagaimana. Ah masa bodoh… langitpun bahkan tercengang tak mengerti, mencoba meraba apa yang terjadi. Begitulah, karena sekali lagi kita adalah misteri. Tapi aku akan memungutnya, kurangkai lalu kutempel di sudut hatiku. Bukan untuk siapa dan apa, tapi kunikmati lukisan abstrak karya hidupmu itu sendiri, meski hanya tercipta dari cat tembok dan pigmen merah. Kau boleh saja tak tahu, karena kita bukan untuk dimengerti. Kau hanya perlu memukul tambur itu. Maka, ijinkan aku menjadi sutradaranya dan kau ciptakanlah musik untukku. Satu persatu akan kukaitkan setiap tetesan asa menjadi sebuah drama surrealis. Bersama-sama kita tinju rembulan, gemintang dan sebagainya. 

Terimakasih atas segala pengabdianmu selama ini. Untuk setiap butir nasi yang kau hidangkan padaku setiap paginya, di tiap tetesan air yang kau tuangkan dalam gelasku. Juga tiap helai benang pakaian yang kau cuci dan setrika. Semoga menjadi saksi kelak di peradilan Allah. Betapa ikhlasmu dapat menjangkau celah-celah hatiku. Dalam diam dan angkuhku, setiap nafasku adalah do’a untukmu.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;