Masih
dengan yang namanya passion. Lalu apa yang dicari ketika ternyata kehidupan
menuntut hal lain yang lebih penting dari pada sebuah passion atau keinginan. Pada
satu titik itulah kita selalu diminta untuk memilih, karena pada dasarnya hidup
adalah memilih. Dan ketika saya mencoba untuk berani memilih, yang terjadi
kemudian adalah ternyata saya terjebak pada sebuah kenyataan yang menuntut
saya. Terus menuntut untuk sekedar melanjutkan hidup. Saya tak tahu lagi harus
berbuat apa. Antara menuruti apa yang menjadi keinginan saya atau hidup harus
berjalan. Mungkin memang terdengar gila, dan memang ini adalah sebuah kegilaan
tak terarah.
Ketika banyak orang mengatakan ikuti
nalurimu, apa yang membuatmu merasa hidup dengan hal yang kamu cintai. Oke...
that’s true... tapi selebihnya kita akan dihadapkan pada realita yang jauh
berbeda dengan sekedar apa yang ada di angan-angan. Kehidupan itu ibarat dua
mata pisau, selalu ada resiko pada tiap pilihan kita. Kita mau terpenjara dalam
kenyamanan atau merdeka dengan keterbatasan. Karena ketika memilih yang harus
dijalani adalah kita membangun kembali, membentuk sebuah fondasi. Percayalah,
itu tak segampang dalam bayangan.
Hampir setiap hari dalam otak
terbersit kata “aku harus keluar, berhenti.” Karena ekspektasi itu harus
dibayar begitu mahal. Sering saya dengar, ketika kamu merasa kamu harus
berhenti, di situlah sebanarnya titik terdekatmu dengan apa yang kamu harapkan.
Tapi sekali lagi itu harus dibayar dengan amat sangat mahal. Sangat mahal.
Pada posisi ini saya hanya
dihadapkan pada dua buah pertanyaan, apa yang sudah saya lakukan? Dan apa yang
akan saya kerjakan? Fuck...

0 komentar:
Posting Komentar