Menjelang Februari. Setahun
telah lewat. Pada titik ini aku masih berusaha menata hati. Mencoba melarutkan
diri dalam sibuknya pekerjaan. Ternyata berbohong pada nurani tak pernah mudah.
Kesibukan tak pernah dengan segera mengikis rasa. Yang tertinggal justru lelah
dan suntuk. Sementara semua berjalan dan berubah, aku bersama pikiranku masih
termenung di satu sisi, berkutat pada pertengkaran batin yang tak kunjung usai.
Entah apa yang akan terjadi, aku masih terus meraba. Hati dan pikiranku masih
terus mengambang. Pada usia seperti ini sepertinya sudah terlambat untuk tahu tujuan
dan impian. Sekarang adalah saat di mana
tanggung jawab menjadi sebuah kepastian, alih-alih memikirkan perdebatan hati.
Ada anak-anak yang tak tahu apa-apa yang masih jauh masa depannya.
Dan sekali lagi memang terasa
berat. Setiap pagi menyusuri jalanan sepi, terdiam dalam suara motor dan
celotehan kakak, selalu bisa membawa pikiranku melayang ke tak tentu arah. Hari
esok seperti masih kabur, aku hanya menjalani apa yang bisa aku lakukan saat
ini. Aku tak pernah menyesal dulu pernah memutuskan mundur dari mengajar meski
banyak orang menyayangkan itu. Aku pikir saat itu bisa menjadi ruang untukku,
tapi ternyata tidak. Semuanya tak pernah mudah. Rasanya orang-orang dalam diam
mereka menyesalkan itu. Membuatku seakan tersudut, lalu pada akhirnya mau tidak
mau harus kembali pada rutinitas pagi.
Sisi baiknya, aku bisa
menemani kakak untuk bersekolah di sini. Itulah yang jadi penopang semangat
buatku menjalani keseharian. Aku terus berusaha memompa energi di setiap
paginya untuk berbagi waktu dan pikiran, antara sekolah dan teater dan
lain-lain. Kau tahu sendiri bukan, teater sudah menjadi bagian hidupku. Hingga
saat inipun hampir sebagian besar kebutuhan hidup ditopang dari hasil karya.
Kini, energiku seakan habis terserap dalam kegiatan-kegiatan yang terus
bertautan. Itulah yang membuat aku ingin melepaskan rutinitas berteater. Berat,
amat berat memilih sesuatu yang tidak ada dalam pilihan. Apalagi ketika kau
mengatakan, “ndak cukup menggantungkan dari gaji di sekolah.” Di posisi
itu aku kembali menimbang. Teater penuh dengan ketidakpastian, meski
menyenangkan bisa berkelana dalam imajinasi akan tetapi butuh energi ekstra
untuk menjalaninya. Sedang tenagaku seakan terkuras di sekolah. Berangkat pagi,
pulang sore adalah waktu mati. Belum lagi dengan tugas tambahan. Di waktu itu
sulit rasanya membagi raga. Dan kini hasratku berkarya tak lagi seterang dulu. Melihat teman-teman berkarya, membuat egoku terbakar. Aku jadi
pesimis lalu akhirnya hanya timbul pernyataan dan juga tanya, “ngapain sih?”
Memang, semakin bertambah usia tak cukup dengan idealis tapi kita harus
realistis. Toh apa yang selama ini diperjuangkan hingga berdarah-darah belum bisa
memberikan kepastian hidup. Atau jangan-jangan itu hanya perasaanku saja karena tak bisa bersyukur.
Mungkin adalah prasangka
burukku saja, saat melihat orang-orang begitu mudahnya menjalani hidup mereka. Mendapat
apa yang mereka harapkan. Dan aku tahu itu salah. Itu sekedar perasaan tak
tentu yang sering datang begitu saja. Kata orang-orang sih Overthingking.
Dalam batin, ingin aku dapat
bererita tentang ini dan itu, berbagi rasa, berbicara hal tak penting. Tapi,
tak tahu mengapa dayaku seakan habis. Dan lagi aku tak pernah mampu merangkai kata-kata. Aku terlalu takut mengungkapkan. Takut jika ungkapanku hanya akan menjadi bumerang yang mengorek-orek ketidakmampuanku menentukan sesuatu. Aku cuma ingin pulang dan merebahkan
badan, merakit kembali energi. Karena aku rasa esok akan menjadi hari yang
berat. Bertopeng dan merasa semua baik-baik saja seharian penuh malah membuatku
menjadi tidak baik-baik saja. Aku mengerti ada yang salah dalam diriku. Kenyataannya
aku bukanlah aktor kehidupan yang baik. Aku tak pernah bisa menyelesaikan
peranku mencitrakan bahwa tak ada yang salah.
Jika kau selalu bertanya, “kenapa
sering tidur larut?” Maka jawabku adalah, karena malam selalu bisa
menenangkan. Memberi ruang untuk sejenak lepas dari hiruk pikuk keruwetan. Melihat
kelian terlelap adalah sebuah tempat untuk berdiskusi dengan nurani, memastikan
semua berjalan seperti seharusnya dan sewajarnya. Aaah... sudahlah. Aku seperti
sedang memanah rembulan dan memburu angin. Biarkan saja nanti menjadi cerita
buat anak-anak kita. Karena hidup adalah tentang kepastian, bukan ada dalam
harapan dan mimpi.
Maaf... aku masih belum
menjadi diriku yang seutuhnya, masih gamang dalam hal-hal remeh temeh. Aku terhenti di titik batas.
Menjelang
Februari
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact