Senin pagi di bulan September.
Jam dinding memberi kode, saatnya tiba untuk mengarungi dunia nyata yang fana. Aku
bergegas tinggalkan alam mimpi yang masih terasa di pelupuk mata. Serbuan air
dingin jadi momentum untuk sekedar mengisi energi. Demi apa semua ini? Demi
mimpi-mimpi yang belum terbeli, demi harapan-harapan untuk sekedar membalut
sembilu lara.
Aroma pagi adalah grafitasi yang
menyeretku menuju keruwetan selanjutnya. Suara bel dan mesin merangkai melodi
di jiwa, menyesaki batang otakku. Sisi batinku yang tersudut berucap, “Semoga
hari ini adalah laku sementara dan cepat berlalu.”
Kutarik tali gas motor maticku,
memecah udara dingin berkabut tipis. Mengantar langkah menapaki jejak-jejak
impian yang seperti dongeng masa lampau. Hey, deaunan di sisi jalan yang tiap
pagi melambaikan senyumnya. Kadang kalian hijau, kadang juga kuning. Kalian
begitu gembira menari. Entah aku tak mengerti, kalian sedang mengejek atau
sedang memberiku semangat.
Sementara separuh jiwaku terfokus
pada tugas-tugas birokratif, separuh lagi entah ada di mana. Alam imaji
mengambang di awang-awang, membentuk dimensi panggung dengan tarian dan musik. Berkhayal
tentang kata-kata dan cerita, melukis di awan dan udara, berandai-andai untuk
penciptaan-penciptaan karya.
Berjalanlah hari ini. Segera
hapuskan tiap jengkal yang terangkai. Biar kurendam dalam hati yang basah. Pada
nyatanya aku begitu pecundang, tak berhak untuk mengelak. Ketika semua bayangan
telah luluh, setapak kutiti kehidupan. Logika dan imaji saling menghujat,
seperti dua alam penuh misteri. Mereka kusut dalam sukma. Begitu jauh tak
tergapai. Nurani begitu kuat menghasutku yang terpaku dan terdiam. Aku diam,
dan aku diam, lalu berhenti di titik ini. Sialnya, semesta terus berputar, aku
terus mendekam.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact