Senin, 16 September 2019 0 komentar

Dunia Berisik



Dunia begitu berisik
Ribuan kata bertumpuk tak bermakna
Sepi telah pergi
Tidakkah ia merindu, untuk sekedar berbincang
Berdialog tentang dini hari

            Tenang kini cuma ilusi
            Dari hentakan suara yang terus menerus
            Memenuhi sisi elegi ruang hidup
            Dalam semua itu, pikiran membumbung
            Lalui imaji yang berantakan

Terbanglah mimpi, pergilah sepi
Berlabuhlah pada tak terbatas
Minggu, 08 September 2019 0 komentar

Pagi, 9-9-19


Senin pagi di bulan September. Jam dinding memberi kode, saatnya tiba untuk mengarungi dunia nyata yang fana. Aku bergegas tinggalkan alam mimpi yang masih terasa di pelupuk mata. Serbuan air dingin jadi momentum untuk sekedar mengisi energi. Demi apa semua ini? Demi mimpi-mimpi yang belum terbeli, demi harapan-harapan untuk sekedar membalut sembilu lara.

Aroma pagi adalah grafitasi yang menyeretku menuju keruwetan selanjutnya. Suara bel dan mesin merangkai melodi di jiwa, menyesaki batang otakku. Sisi batinku yang tersudut berucap, “Semoga hari ini adalah laku sementara dan cepat berlalu.”

Kutarik tali gas motor maticku, memecah udara dingin berkabut tipis. Mengantar langkah menapaki jejak-jejak impian yang seperti dongeng masa lampau. Hey, deaunan di sisi jalan yang tiap pagi melambaikan senyumnya. Kadang kalian hijau, kadang juga kuning. Kalian begitu gembira menari. Entah aku tak mengerti, kalian sedang mengejek atau sedang memberiku semangat.

Sementara separuh jiwaku terfokus pada tugas-tugas birokratif, separuh lagi entah ada di mana. Alam imaji mengambang di awang-awang, membentuk dimensi panggung dengan tarian dan musik. Berkhayal tentang kata-kata dan cerita, melukis di awan dan udara, berandai-andai untuk penciptaan-penciptaan karya.

Berjalanlah hari ini. Segera hapuskan tiap jengkal yang terangkai. Biar kurendam dalam hati yang basah. Pada nyatanya aku begitu pecundang, tak berhak untuk mengelak. Ketika semua bayangan telah luluh, setapak kutiti kehidupan. Logika dan imaji saling menghujat, seperti dua alam penuh misteri. Mereka kusut dalam sukma. Begitu jauh tak tergapai. Nurani begitu kuat menghasutku yang terpaku dan terdiam. Aku diam, dan aku diam, lalu berhenti di titik ini. Sialnya, semesta terus berputar, aku terus mendekam.
 
;