Selasa, 01 November 2022 0 komentar

Kepak Sayap Garuda


 Lagu yang dibuat dengan bahan bakar keisengan, kegabutan, dan sedikit bumbu semangat untuk memberi semangat orang lain. Padahal diri sendiri belum tentu punya semangat itu lagi.

0 komentar

02/11/2022




 

0 komentar

Huh...

Ketika kutulis ini, masih ada November dan Desember di tahun 2022. Seperti biasanya harapanku, semoga ada sesuatu yang bisa aku banggakan untuk 2023. Masih melekat jelas di benak, harapanku di tahun 2021. Nyatanya hari-hari berjalan biasa saja. Taka da yang spesial.    

0 komentar

Sial, Aku Mengumpat Lagi Pada Waktu

Pada titik ini aku kembali limbung. Terus berjalan tanpa tujuan atau berhenti? Untuk kembali lagi, semangatku sudah tak semembara dulu. Aku bukan pejuang, aku hanya pecundang yang menyembunyikan ketakutanku pada rutinitas. Berkali-kali aku menyalahkan waktu dengan segala sumpah serapahku. Apa yang dulu aku perjuangkan masih kabur dari bayangan, tak seperti harapan. Hidup dan menghidupi teater nyatanya kecil peluangnya untuk masa depan. Banyak hal yang harus aku pikirkan. Ada keluarga yang menunggu di rumah. Itu yang perlahan memadamkan bara api dalam hatiku. Tapi kenyataannya berjalan limbung di jalan ini sama pusingnya. Memikirkan tentang masa depan anak-anak yang entah nanti bagaimana.

Sial… aku mengumpat lagi pada keadaan. Tulisan inipun juga bertema sama dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Aduh… sampai kapan umpatan ini akan berakhir? Apa pada akhirnya aku hanya akan menyalahkan diri sendiri dan keadaan? Entahlah… entahlah… dan entahlah… selalu entah ujung dari kalimat-kalimatku.

Ya… aku memang menyembunyikan kebencian, kegamangan, ketakutan, dan segala hal pada rutinitas. Seakan rutinitas yang sebenarnya tak kuinginkan jadi tempat pelampiasan semua kemarahan dan keruwetanku. Aku cuma berjalan satu arah, begitu saja. Tanpa tahu tujuan dan tanpa mau peduli apapun lagi.

Memutus hubungan dan kabar dengan teman-teman teater adalah salah satu cara untuk meluapkan semua perasaan itu. Bukan pada personalnya yang aku benci, aku hanya ruwet pada pikiranku sendiri. Aku merasa kehidupan teater tak memberi feedback yang cukup untuk hidup ke depannya. Aku merasa mengambil jalan yang salah untuk berjuang. Tak aku pungkiri bahwa dulu teater juga hanya menjadi tempat bernaungku melampiaskan kekesalan dan ketidak tahuan akan jalan mana yang harus aku ambil setelah lulus SMA. Kini sedikit demi sedikit teater mulai aku tinggalkan. Semangatku sudah tak semembara dulu lagi.

Belajar hal baru, membunuh waktu dengan menghabiskannya berjam-jam di depan komputer juga sepertinya akan memakan banyak waktu. Otakku menjadi penuh dan tak terkontrol. Aku menjadi sadar bahwa sepertinya aku memang bukan apa-apa dan siapa-siapa. Jujur aku sedang krisis identitas diri. Aku tak tahu siapa jati diriku sebenarnya. Aku hanya seonggok daging yang berjalan begitu saja. Dan kini aku 35 tahun menuju 36. Semoga nanti tidak ada yang mengingatkanku jika aku berulang tahun. Lalu seperti biasa, semoga… semoga saja… dan harapan hanya akan menjadi harapan. Membusuk di sudut hati yang sepi.

 

Madiun, 1 November 2022


Kamis, 27 Oktober 2022 0 komentar

Bingung

Aku bingung mau memulai dari mana. Bingung mau belajar apa lagi. Otakku penuh dengan keinginan-keinginan. Pada akhirnya aku cuma berhenti di satu titik.

Rabu, 14 September 2022 0 komentar

Madiun Sabtu, 2 Juli 2016

Sabtu, 2 Juli 2016

Madiun

               Lama sudah tak kutengok buku ini. Tiba-tiba hatiku tergerak untuk menggoreskan sesuatu.

…. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Ia perkasa dan menggilas apa saja yang dilaluinya tanpa peduli. Ah… waktu, aku selalu takjub padamu. Kau menyatukan, mempertemukan, memisahkan dan segalanya tanpa peduli perasaan orang.

              10 tahun sudah aku mengenalmu. Begitu banyak hal terlewati. Kala itu kita mulai membangun mimpi bersama. Tertatih dan terseok untuk sekedar membuktikan pada dunia bahwa kita mampu. Huh… lucu memang… segala sesuatunya berjalan tak seindah di angan. Begitu banyak hal sulit datang namun kita mampu melewatinya. Banyak mukjizat tanpa kita sadari yang sampai detik ini aku masih belum bisa menalarnya.

              Tanpa kita sadari, satu persatu keinginan kita terwujud. Itulah yang kusebut mukjizat. Dan hal terbodoh sepanjang perjalanan ini adalah, kita berani mengambil perumahan. Padahal pendapatanku saja hanya sepertiga angsurannya. Lalu bagaimana lagi…? Ya sudahlah.

              Hadirnya Adek adalah mukjizat yang menjadi alasan untukku terus bergerak. Aku mencoba menerka belantara asa yang masih kabur ujungnya, tak terprediksi dalam otakku seperti apa. Tapi aku yakin, esok akan selalu ada jalan. Hidup kita memang penuh dengan kenekatan, dan mungkin kontrolnya cuma 5 persen. Itulah mengapa Adek punya daya kenekatan lebih besar dari pada anak lainnya. Memang itu ada dalam darah kita.

              Sering aku memprotes, meski dalam nurani, tentang hidup dan kehidupan. Lihat saja orang lain yang begitu mudahnya menjalani kehidupan. Mereka begitu teratur dan tertata segala sesuatunya. Ya… sepertinya sih… Sementara aku harus memutar otak, menyiapkan seluruh raga dan batinku, fisik dan psikisku hanya untuk sekedar menjaga bangunan yang telah kita rawat. Bekerja dengan mengandalkan kreatifitas bukan sesuatu yang mudah. Malam aku harus banyak terjaga untuk meramu ide. Lalu yang jadi pertanyaanku adalah, sampai kapan aku mampu seperti itu? Entahlah… apakah selamanya harus seperti itu. Bukan aku tak suka, namun hanya pertanyaanku takut tentang masa depan yang belum pasti. Jika aku sudah tak mampu berkarya lagi nanti bagaimana dengan bangunan pondasi kita…

              Ah sudahlah… kau tahu kan aku selalu malas mengungkit dan berkata panjang lebar. Aku hanya ingin terus bergerak. Karena sejatinya hidup adalah perubahan. Aku tak mau jadi pengecut yang bersembunyi. Aku ingin menjadi pejuang bagaimanapun terjalnya jalan yang kulalui. Masa bodoh terjatuh, persetan tertatih-tatih, aku akan bangkiti kembali.


0 komentar

15 September 2022_12.43

Seutas ilalang berpayung matahari

Sendiri mengering dan layu

Berharap angin berkejaran datang

Membelai lunglai tubuhnya

        Terpaku di kaki zaman

        Orang-orang menuntun asa

        Menggiring harapan tentang hari esok

        Mereka bersandar pada dekapan


0 komentar

23 Februari 2007

Seutas layu menguncup oleh waktu

Mengambang bersama langkah

Kau taksir senja di bawah kakiku

Kau rawat suryaku di ujung jemarimu

                Kau buai asaku saat jarum meregangkan nadi tanganku

                Kau ketuk lelap hatiku yang meratapi letih

                Lalu kau timang aku di ujung lakumu

                                                        

                                                                23 Februari 2007


0 komentar

23 Februari 2007

Kaulah jarum penyulam piluku,

ketika fajar pergi

Kaulah keheningan masa,

ketika fatamorgana bergelora

Aku takjub oleh waktu di lakumu,

seakan tak pernah letih dan pudar

Itulah yang menggores dalam aliran darahku

Membusungkan tiap urat nadiku

 

Dan kau ketuk rintihan detik di tanganku,

Itu pula yang meredam ledakan hasratku

 

Kawan…

Ada kala kita tak saling bertegur nama

untuk sejenak bersama dalam kenangan,

menengok kembali masa lalu.

 

 

                                                       23 Februari 2007


Senin, 05 September 2022 0 komentar

Entahlah

         Aku sudah mencoba untuk berdiam, namun kenyataannya kau terus menuntut dan menuntut. Tak cukup contoh-contoh nyata yang kau hadapi. Pada saat itu aku mencoba untuk memberi pemahaman tentang apapun, namun tak ada yang bisa kau terima. Hingga contoh nyatapun kau tak pernah bisa memahami. Lallu bagaimana lagi aku menjelaskan padamu. Aku selalu mencoba untuk diam, dan diam. Bukan karena aku tak peduli, tapi karena aku tak tahu lagi harus bagaimana.

0 komentar

Ya Allah... Aku ingin teriak...

         Ya Allah... Aku ingin teriak...

0 komentar

Brengsek

        Aku cuma mau marah. Marah sama diri sendiri. Benci sama diri sendiri. Kenapa hidup tak pernah berpihak kepadaku. Dan sepertinya akan sia-sia saja kalau aku berjuang lagi. Toh yang diperjuangkan tak seindah harapan. Aaaaahhhh... brengsek... brengsek... bangsat... bangsat... 

        Sekarang terserah dunia mau apa. 

Rabu, 24 Agustus 2022 0 komentar

Bodo Amat dah...

    Lu tahu gak sih ges...? akhir-akhir ini tuh aku cuma pengen marah aja. Nggak tahu kenapa ya, tapi bawaannya bad mood aja. Males kayak ngliatin orang-orang. Ya siapa aja. Dan akhir-akhir ini juga aku lebih gak peduli sama orang lain. Rasanya aneh aja. Biasanya kalau ada orang tanya, pasti dijawab bahkan dibela-belain bantuin meski kadang diri sendiri lagi repot. Tapi akhir-akhir ini ada yang tanya, aku jawab gak tahu gitu aja, meskipun sebenarnya tahu. Masa bodo ah sama orang lain. Kenapa bisa begitu? Ya karena kayaknya orang-orang juga gak peduli-peduli amat sama aku. Mereka sepertinya kayak cuman peduli sama kepentingan mereka sendiri aja. Ah... aku ingin berkata kasar.

    Rasanya kayak pengen pergi ke mana gitu. Tampat yang sepi orang dan gak ada orang-orang bikin bete. Mungkin mereka dan juga kadang gak berniat buat jahat ya, tapi secara prakteknya tanpa sengaja sering nyakitin, begitu juga dengan kita. Alah au ah gelap. Sekarang pokoknya aku pengen gak peduli, alias masa bodo.

    Gak tahu kenapa ya, hidup cuma sekedar muter di satu sisi tanpa arah tujuan. Pagi bangun, berangkat kerja, pulang, di rumah, beres-beres rumah, tidur, besok ulang lagi seperti itu. Capek juga tiap hari kayak gitu. Kenapa tiap ngliatin orang-orang itu bisa enak aja ya kehidupan mereka. Fuck lah... 

    Ngomongin soal keberuntungan, aku sempat debat sama orang yang sok-sokan ngomong bahwa hidup dan rejeki terutama, itu adalah tentang kerja keras. Bulshit lah. Kalau memang rejeki dilihat dari kerja keras, kenapa kuli-kuli yang kerja panas-panasan di jalan raya gajinya gak lebih besar daripada orang yang sekedar duduk-duduk depan laptop. Semuanya itu tentang pemberian bos, bejo bejan kata orang jawa. Tapi kalau ternyata prinsip hidupnya begitu ya Masa Bodo sama tetek bengek argumentasi dia. 

   Tentang bakat dan kerja keras. Ternyata juga bulshit lho, bahwa kerja keras itu bisa ngalahin bakat. Nyatanya sekeras apapun aku berusaha wong kenyataannya aku bakat musik ya jadinya gitu-gitu aja. Berapa waktu tersita buat latihan musik digital, nyatanya juga gak berpengaruh besar perubahannya. Sekali lagi mah Masa Bodo...

    Kayaknya memang kehidupan gak pernah memihak padaku deh. Ya siapa juga aku... toh tanpa aku kehidupan dan semesta tetap berjalan dan bergerak. Siapa sih aku yang cuma mas-mas biasa aja yang punya banyak keinginan. 

    Betatapun keras aku berusaha hasilnya juga orang-orang lain yang nikmatin. Itu yang bikin malas. Apa memang aku tercipta buat membangun, lalu kapan aku bisa menikmati hasinya? Gak tahu sampai kapan. Mungkin juga gak bakalan pernah nikmatin. Sekali lagi mah Masa Bodo...

    Sekarang mau gimana lagi selain Masa Bodo. Orang semakin dipikirin semakin bikin sakit hati, semakin makan ati, semakin bikin bad mood. Mau marah, tapi marah sama siapa, mau nangis tapi udah keseringan nangis. Tailah...

    Teater yang memberiku banyak pelajaran juga sudah membuatku jengah, suntuk... Masa Bodo lah...

Kamis, 26 Mei 2022 0 komentar

Dini Hari

    Nyatanya hasil sering berkhianat pada proses. Ada orang dengan sedikit kerja keras dapat hasil yang lebih, ada orang yang sudah mati-matian namun belum sukses juga. Ada juga yang bekerja sungguh-sungguh dan dapat hasil yang maksimal. Ya itulah kehidupan. Sepertinya salah ya ketika kita menyebut diri sebagai sesuatu yang spesial. Nggak kok, kita nggak sespesial yang kita bayangkan. Orang-orang yang spesial itu cuma beberapa aja. Dan bisa dihitung jari. Bill Gates DO dari kuliah dan sukses menjadi orang terkaya di dunia, belum tentu kalau kita DO bakal jadi seperti itu. Rasanya nggak mungkin. Ronaldo pesepak bola top dunia, dia terkenal karena usaha dan latihannya, belum tentu ketika kita berlatih sekeras latihan Ronaldo bakalan jadi pemain dunia sekelas Ronaldo. Aaah... kita adalah orang-orang kalah. Dulu aku berusaha mati-matian, belajar, ngabisin waktu buat observasi, mencatat hal-hal yang aku tekuni, dan membaca buku-buku, tapi nyatanya apa? Apa yang aku perjuangkan dulu tak pernah ada artinya sama sekali. Aku menjadi tak berdaya dan terkapar ditampar kenyataan. Apa yang dulu pernah kuperjuangkan dengan harapan jadi penopang hidup tak membuahkan arti lagi.  Ya Allah... ini adalah permohonan seorang hamba yang penuh noda dosa. Hanya Engkau tempat hamba memohon dan bersandar. Sebagai laki-laki dan bapak rumah tangga, aku seperti tak berdaya. Gaji bulanan hanya cukup untuk cicilan rumah. Jika ada kebutuhan lain... entahlah... 

  Rumah kecil ini semakin lama semakin lapuk kayu-kayunya. Tembok mulai retak. Semoga masih bertahan lebih lama hingga Engkau mudahkan rejeki kami, mendapat rumah yang lebih nyaman lagi, kendaraan yang bisa membawa kami berempat.     

    Rasanya do'a-do'a itu terlalu jauh bayangannya untukku yang gaji bulanannya hanya cukup buat bayar cicilan rumah.

 
;