Pada titik ini aku
kembali limbung. Terus berjalan tanpa tujuan atau berhenti? Untuk kembali lagi,
semangatku sudah tak semembara dulu. Aku bukan pejuang, aku hanya pecundang yang
menyembunyikan ketakutanku pada rutinitas. Berkali-kali aku menyalahkan waktu dengan
segala sumpah serapahku. Apa yang dulu aku perjuangkan masih kabur dari
bayangan, tak seperti harapan. Hidup dan menghidupi teater nyatanya kecil
peluangnya untuk masa depan. Banyak hal yang harus aku pikirkan. Ada keluarga
yang menunggu di rumah. Itu yang perlahan memadamkan bara api dalam hatiku. Tapi
kenyataannya berjalan limbung di jalan ini sama pusingnya. Memikirkan tentang
masa depan anak-anak yang entah nanti bagaimana.
Sial… aku
mengumpat lagi pada keadaan. Tulisan inipun juga bertema sama dengan tulisan-tulisan
sebelumnya. Aduh… sampai kapan umpatan ini akan berakhir? Apa pada akhirnya aku
hanya akan menyalahkan diri sendiri dan keadaan? Entahlah… entahlah… dan
entahlah… selalu entah ujung dari kalimat-kalimatku.
Ya… aku memang
menyembunyikan kebencian, kegamangan, ketakutan, dan segala hal pada rutinitas.
Seakan rutinitas yang sebenarnya tak kuinginkan jadi tempat pelampiasan semua
kemarahan dan keruwetanku. Aku cuma berjalan satu arah, begitu saja. Tanpa tahu
tujuan dan tanpa mau peduli apapun lagi.
Memutus hubungan
dan kabar dengan teman-teman teater adalah salah satu cara untuk meluapkan semua
perasaan itu. Bukan pada personalnya yang aku benci, aku hanya ruwet pada
pikiranku sendiri. Aku merasa kehidupan teater tak memberi feedback yang cukup
untuk hidup ke depannya. Aku merasa mengambil jalan yang salah untuk berjuang. Tak
aku pungkiri bahwa dulu teater juga hanya menjadi tempat bernaungku
melampiaskan kekesalan dan ketidak tahuan akan jalan mana yang harus aku ambil
setelah lulus SMA. Kini sedikit demi sedikit teater mulai aku tinggalkan. Semangatku
sudah tak semembara dulu lagi.
Belajar hal baru,
membunuh waktu dengan menghabiskannya berjam-jam di depan komputer juga
sepertinya akan memakan banyak waktu. Otakku menjadi penuh dan tak terkontrol. Aku
menjadi sadar bahwa sepertinya aku memang bukan apa-apa dan siapa-siapa. Jujur aku
sedang krisis identitas diri. Aku tak tahu siapa jati diriku sebenarnya. Aku hanya
seonggok daging yang berjalan begitu saja. Dan kini aku 35 tahun menuju 36. Semoga
nanti tidak ada yang mengingatkanku jika aku berulang tahun. Lalu seperti
biasa, semoga… semoga saja… dan harapan hanya akan menjadi harapan. Membusuk di
sudut hati yang sepi.
Madiun,
1 November 2022
Sabtu, 2 Juli 2016
Madiun
…. Tak terasa waktu begitu
cepat berlalu. Ia perkasa dan menggilas apa saja yang dilaluinya tanpa peduli.
Ah… waktu, aku selalu takjub padamu. Kau menyatukan, mempertemukan, memisahkan
dan segalanya tanpa peduli perasaan orang.
10 tahun sudah aku mengenalmu. Begitu banyak hal
terlewati. Kala itu kita mulai membangun mimpi bersama. Tertatih dan terseok
untuk sekedar membuktikan pada dunia bahwa kita mampu. Huh… lucu memang… segala
sesuatunya berjalan tak seindah di angan. Begitu banyak hal sulit datang namun
kita mampu melewatinya. Banyak mukjizat tanpa kita sadari yang sampai detik ini
aku masih belum bisa menalarnya.
Tanpa kita sadari, satu persatu keinginan kita terwujud.
Itulah yang kusebut mukjizat. Dan hal terbodoh sepanjang perjalanan ini adalah,
kita berani mengambil perumahan. Padahal pendapatanku saja hanya sepertiga
angsurannya. Lalu bagaimana lagi…? Ya sudahlah.
Hadirnya Adek adalah mukjizat yang menjadi alasan
untukku terus bergerak. Aku mencoba menerka belantara asa yang masih kabur
ujungnya, tak terprediksi dalam otakku seperti apa. Tapi aku yakin, esok akan
selalu ada jalan. Hidup kita memang penuh dengan kenekatan, dan mungkin
kontrolnya cuma 5 persen. Itulah mengapa Adek punya daya kenekatan lebih besar
dari pada anak lainnya. Memang itu ada dalam darah kita.
Sering aku memprotes, meski dalam nurani, tentang hidup
dan kehidupan. Lihat saja orang lain yang begitu mudahnya menjalani kehidupan. Mereka
begitu teratur dan tertata segala sesuatunya. Ya… sepertinya sih… Sementara aku
harus memutar otak, menyiapkan seluruh raga dan batinku, fisik dan psikisku
hanya untuk sekedar menjaga bangunan yang telah kita rawat. Bekerja dengan
mengandalkan kreatifitas bukan sesuatu yang mudah. Malam aku harus banyak
terjaga untuk meramu ide. Lalu yang jadi pertanyaanku adalah, sampai kapan aku
mampu seperti itu? Entahlah… apakah selamanya harus seperti itu. Bukan aku tak
suka, namun hanya pertanyaanku takut tentang masa depan yang belum pasti. Jika aku
sudah tak mampu berkarya lagi nanti bagaimana dengan bangunan pondasi kita…
Ah sudahlah… kau tahu kan aku selalu malas mengungkit
dan berkata panjang lebar. Aku hanya ingin terus bergerak. Karena sejatinya
hidup adalah perubahan. Aku tak mau jadi pengecut yang bersembunyi. Aku ingin
menjadi pejuang bagaimanapun terjalnya jalan yang kulalui. Masa bodoh terjatuh,
persetan tertatih-tatih, aku akan bangkiti kembali.
Kaulah jarum penyulam piluku,
ketika fajar pergi
Kaulah keheningan masa,
ketika fatamorgana bergelora
Aku takjub oleh waktu di lakumu,
seakan tak pernah letih dan pudar
Itulah yang menggores dalam
aliran darahku
Membusungkan tiap urat nadiku
Dan kau ketuk rintihan detik di tanganku,
Itu pula yang meredam ledakan hasratku
Kawan…
Ada kala kita tak saling bertegur nama
untuk sejenak bersama dalam kenangan,
menengok kembali masa lalu.
23
Februari 2007
Aku sudah mencoba untuk berdiam, namun kenyataannya kau terus menuntut dan menuntut. Tak cukup contoh-contoh nyata yang kau hadapi. Pada saat itu aku mencoba untuk memberi pemahaman tentang apapun, namun tak ada yang bisa kau terima. Hingga contoh nyatapun kau tak pernah bisa memahami. Lallu bagaimana lagi aku menjelaskan padamu. Aku selalu mencoba untuk diam, dan diam. Bukan karena aku tak peduli, tapi karena aku tak tahu lagi harus bagaimana.
Aku cuma mau marah. Marah sama diri sendiri. Benci sama diri sendiri. Kenapa hidup tak pernah berpihak kepadaku. Dan sepertinya akan sia-sia saja kalau aku berjuang lagi. Toh yang diperjuangkan tak seindah harapan. Aaaaahhhh... brengsek... brengsek... bangsat... bangsat...
Sekarang terserah dunia mau apa.
Lu tahu gak sih ges...? akhir-akhir ini tuh aku cuma pengen marah aja. Nggak tahu kenapa ya, tapi bawaannya bad mood aja. Males kayak ngliatin orang-orang. Ya siapa aja. Dan akhir-akhir ini juga aku lebih gak peduli sama orang lain. Rasanya aneh aja. Biasanya kalau ada orang tanya, pasti dijawab bahkan dibela-belain bantuin meski kadang diri sendiri lagi repot. Tapi akhir-akhir ini ada yang tanya, aku jawab gak tahu gitu aja, meskipun sebenarnya tahu. Masa bodo ah sama orang lain. Kenapa bisa begitu? Ya karena kayaknya orang-orang juga gak peduli-peduli amat sama aku. Mereka sepertinya kayak cuman peduli sama kepentingan mereka sendiri aja. Ah... aku ingin berkata kasar.
Rasanya kayak pengen pergi ke mana gitu. Tampat yang sepi orang dan gak ada orang-orang bikin bete. Mungkin mereka dan juga kadang gak berniat buat jahat ya, tapi secara prakteknya tanpa sengaja sering nyakitin, begitu juga dengan kita. Alah au ah gelap. Sekarang pokoknya aku pengen gak peduli, alias masa bodo.
Gak tahu kenapa ya, hidup cuma sekedar muter di satu sisi tanpa arah tujuan. Pagi bangun, berangkat kerja, pulang, di rumah, beres-beres rumah, tidur, besok ulang lagi seperti itu. Capek juga tiap hari kayak gitu. Kenapa tiap ngliatin orang-orang itu bisa enak aja ya kehidupan mereka. Fuck lah...
Ngomongin soal keberuntungan, aku sempat debat sama orang yang sok-sokan ngomong bahwa hidup dan rejeki terutama, itu adalah tentang kerja keras. Bulshit lah. Kalau memang rejeki dilihat dari kerja keras, kenapa kuli-kuli yang kerja panas-panasan di jalan raya gajinya gak lebih besar daripada orang yang sekedar duduk-duduk depan laptop. Semuanya itu tentang pemberian bos, bejo bejan kata orang jawa. Tapi kalau ternyata prinsip hidupnya begitu ya Masa Bodo sama tetek bengek argumentasi dia.
Tentang bakat dan kerja keras. Ternyata juga bulshit lho, bahwa kerja keras itu bisa ngalahin bakat. Nyatanya sekeras apapun aku berusaha wong kenyataannya aku bakat musik ya jadinya gitu-gitu aja. Berapa waktu tersita buat latihan musik digital, nyatanya juga gak berpengaruh besar perubahannya. Sekali lagi mah Masa Bodo...
Kayaknya memang kehidupan gak pernah memihak padaku deh. Ya siapa juga aku... toh tanpa aku kehidupan dan semesta tetap berjalan dan bergerak. Siapa sih aku yang cuma mas-mas biasa aja yang punya banyak keinginan.
Betatapun keras aku berusaha hasilnya juga orang-orang lain yang nikmatin. Itu yang bikin malas. Apa memang aku tercipta buat membangun, lalu kapan aku bisa menikmati hasinya? Gak tahu sampai kapan. Mungkin juga gak bakalan pernah nikmatin. Sekali lagi mah Masa Bodo...
Sekarang mau gimana lagi selain Masa Bodo. Orang semakin dipikirin semakin bikin sakit hati, semakin makan ati, semakin bikin bad mood. Mau marah, tapi marah sama siapa, mau nangis tapi udah keseringan nangis. Tailah...
Teater yang memberiku banyak pelajaran juga sudah membuatku jengah, suntuk... Masa Bodo lah...
Nyatanya hasil sering berkhianat pada proses. Ada orang dengan sedikit kerja keras dapat hasil yang lebih, ada orang yang sudah mati-matian namun belum sukses juga. Ada juga yang bekerja sungguh-sungguh dan dapat hasil yang maksimal. Ya itulah kehidupan. Sepertinya salah ya ketika kita menyebut diri sebagai sesuatu yang spesial. Nggak kok, kita nggak sespesial yang kita bayangkan. Orang-orang yang spesial itu cuma beberapa aja. Dan bisa dihitung jari. Bill Gates DO dari kuliah dan sukses menjadi orang terkaya di dunia, belum tentu kalau kita DO bakal jadi seperti itu. Rasanya nggak mungkin. Ronaldo pesepak bola top dunia, dia terkenal karena usaha dan latihannya, belum tentu ketika kita berlatih sekeras latihan Ronaldo bakalan jadi pemain dunia sekelas Ronaldo. Aaah... kita adalah orang-orang kalah. Dulu aku berusaha mati-matian, belajar, ngabisin waktu buat observasi, mencatat hal-hal yang aku tekuni, dan membaca buku-buku, tapi nyatanya apa? Apa yang aku perjuangkan dulu tak pernah ada artinya sama sekali. Aku menjadi tak berdaya dan terkapar ditampar kenyataan. Apa yang dulu pernah kuperjuangkan dengan harapan jadi penopang hidup tak membuahkan arti lagi. Ya Allah... ini adalah permohonan seorang hamba yang penuh noda dosa. Hanya Engkau tempat hamba memohon dan bersandar. Sebagai laki-laki dan bapak rumah tangga, aku seperti tak berdaya. Gaji bulanan hanya cukup untuk cicilan rumah. Jika ada kebutuhan lain... entahlah...
Rumah kecil ini semakin lama semakin lapuk kayu-kayunya. Tembok mulai retak. Semoga masih bertahan lebih lama hingga Engkau mudahkan rejeki kami, mendapat rumah yang lebih nyaman lagi, kendaraan yang bisa membawa kami berempat.
Rasanya do'a-do'a itu terlalu jauh bayangannya untukku yang gaji bulanannya hanya cukup buat bayar cicilan rumah.


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact