Baiklah… untuk kesekian kalinya aku merasa kalah. Hidup seakan terus
mempecundangiku. Atau memang akulah pecundang sejati. Pada posisi ini langkah
kaki menjadi begitu gamang dan tak tentu arah. Mencoba memperjuangkan apa yang
menjadi angan ternyata tak segampang di angan. Sepertinya waktuku memang sudah
pupus. Entahlah… Target satu tahun terlewat sudah. Nyatanya yang terjadi juga
bukan apa-apa.
Apakah langkah yang kuambil ini salah? Selalu saja seperti ini,
dan sampai kapan akan seperti ini? Apakah penjara hati ini akan mepertanyakannya
setiap hari hingga seumur hidupku. Ketika malam melihat langit-langit, merenung
sendiri, ingin rasanya kembali ke masa lalu. Mencoba merubah dan menetapkan hati
dan langkah.
Dahlah… tempatku memang bukan di sana. Aku tak mengerti lagi harus
berbuat apa. Gusti, Engkau yang tahu, hamba hanya berpasrah merangkai laku yang telah
digariskan.
Sekali lagi, waktu memang perkasa mempecundangiku. Ya…
mempecundangiku yang memang seorang pecundang. Bisa apa aku? Aku bukan apa-apa
dan bukan siapa-siapa. Maafkan anakmu ini, Pak, Buk… maafkan aku Bukta… dan
anak-anakku. Ternyata aku hanya lelaki yang kalah oleh kehidupan. Aku tak mampu
berbuat apa-apa. Ku hanya seonggok daging bernyawa yang sekedar berjalan
menghabiskan sisa laku. Salahkan diriku karena aku memang layak untuk
disalahkan. Aku tak pernah bisa berbuat apa-apa.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact