Senin, 19 Maret 2018 0 komentar

WAJAH


*      Pada wajah aku mengenalmu, pada wajah aku berharap, pada hati aku merindumu.


            Gurat kebencian tergambar jelas tiap kali ia memandang wajahnya. Kilatan masa lalu bermunculan, menghujam dan menohok ulu atinya. Ada segumpal bara dalam batinnya, menyala-nyala membakar amarahnya. Saat ingatan itu tergambar nyata, emosinya memuncak. Andai waktu bisa ditukar, ia akan gadaikan apa saja untuk mengganti masa lalunya. Masa lalu yang tak pernah ia harapkan.

            Sebenarnya, telah puluhan kali bahkan ratusan, petuah bijak ia dengarkan dari mulut tua seorang wanita yang ia panggil ibu. Semuanya menguap tak bersisa. Pitutur luhur tak membuat luka hatinya membaik. Ia tak ingin peduli lagi pada kata-kata. Baginya, kata-kata tak ayalnya omong kosong. Hampa, sehampa hidupnya.

            “Waktu terus berlalu, Nduk.” ucap lirih wanita tua dari mulutnya. “Tapi hati dan pikiranmu tertinggal amat jauh, jauh sekali.”

            Entahlah, langit pasti telah meminjamkan kesabaran tak terbatas pada wanita tua itu. Wanita yang tak pernah bergeming menghadapi takdir, seorang diri. Garis wajahnya mendeskripsikan egoisnya kehidupan pada tubuh lemahnya. Letih lelah tak sedikitpun memberinya celah meletakkan pundak. Ia jalankan tugasnya sesuai pada porsinya. Wanita tua itu, seorang ibu dan nenek dengan ketulusan selaksa dewi-dewi.

“Lelaki itu... bajingan! Lelaki itu... bajingan! Lelaki itu... bajingan!” umpatnya lirih tanpa mau berhenti.

            Harapnya, dengan melakukannya ia mampu meredam dendam, memudarkan berkas benci pada lelaki itu. Percuma, ia tak berdaya. Ia tak sanggup melawan gelombangnya. Selalu ada yang membuatnya kembali mengingat wajah lelaki bermata licik itu.

            “Pergi! Aku tak sudi melihat wajahmu!” usirnya.

Wajah polos itu setiap hari ingin bermanja kepadanya namun selalu ia balas sebaliknya. Yang terjadi selanjutnya adalah tangisan tak berdaya seorang bocah yang belum genap enam tahun.

            Kemiripan wajah yang nyaris sempurna membuat ia membenci bocah itu. Bahkan, cahaya matanya serupa dengan sorot mata licik lelaki yang ia ingin lupakan. Hanya bedanya, ada seutas ketulusan di mata bocah berwajah polos itu. Namun, kala dendam menguasai dirinya, seakan ia adalah sosok bengis tak kenal ampun. Ia akan melempar apa saja yang ada di dekatnya. Memaki serta mengumpat siapa saja dalam jangkauan pandangannya, terlebih bocah berwajah polos itu. Jika itu terjadi, yang bisa dilakukan bocah berwajah polos itu hanya membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan wanita tua, neneknya, yang selama ini menjaga hatinya untuk mencari perlindungan.

            Pangkur, bocah polos berwajah serupa lelaki bermata licik itu bernama Pangkur. Bukan ia yang menamainya. Ia tak mau menyentuhnya, tak ingin melihat wajahnya. Nama Pangkur adalah pemberian sang nenek, wanita tua itu. Neneklah yang dengan cukup setia merawat bocah yang ia lahirkan, yang dengan sabar pula mengajarkan tentang hidup dan kehidupan pada bocah itu. Dari dekapan nenek, Pangkur mendapat kasih sayang seorang ibu. Sebuah perasaan yang tak ia berikan pada anak yang lahir dari rahimnya.

            Sering ia dengar ujaran wanita tua itu pada sang bocah, bahwa lelaki harus punya tanggung jawab.

            “Pangkur, nenek semakin menua, kelak kaulah yang harus menjaga ibumu. Kau lelaki.” kata nenek suatu ketika. Setelahnya, ia tak mendengar bocah itu membalas kata-kata neneknya. Hanya suara gemerantang sendok beradu piring alumunium yang sampai di telinganya. Bocah itu sedang makan.

            Dalam kesendiriannya, suara-suara sendok piring itu mengantarkan pada kenangan yang telah lampau. Suatu waktu ketika lelaki itu menyantap makanan terakhir yang ia suguhkan di meja yang kini dipakai Pangkur meletakkan piring makannya.

            “Aku akan segera kembali.” kata lelaki bermata licik itu dengan mulut penuh nasi sayur.
            “Jadi kau akan meninggalkanku dalam keadaan hamil?”
            “Bersabarlah.” dengan tergesa lelaki itu menghabiskan santapannya lalu beranjak pergi, “Ini untuk masa depan kita, masa depan calon anak kita nantinya.”

            Setelah percakapan itu, ia tak pernah lagi bertemu dengan lelaki itu. Pun tidak kabarnya. Lelaki itu hilang bagai uap. Ia mencoba bersabar menunggu. Sebulan, dua bulan hingga hampir ia melahirkan, lelaki itu tak kunjung datang. Kesabarannya berubah menjadi kesumat yang sedikit demi sedikit menenggelamkannya. Ia lupa siapa dirinya. Lupa bahwa ia telah menjadi seorang ibu.

            Pangkur lahir di tengah penantian tak tentunya. Kelahirannya harusnya menjadi pelipur lara, tapi bukan itu yang terjadi. Dulu ketika lelaki itu datang, dadanya penuh aroma surgawi. Hari-harinya berhias bunga-bunga. Betapa indah rajutan mimpi-mimpi yang diberikan lelaki itu. Lelaki itu pula yang telah mampu memetik hatinya hingga ia tergolek layu. Dalam ketakberdayaannya, ia pasrahkan segalanya. Ia serahkan seluruh hidupnya. Ia ingin bersandar dan bergantung pada lelaki itu, selamanya. Ternyata kehendak takdir tak senada dengan harapannya.

Kini hampir genap tujuh tahun sejak kepergian lelaki itu. Segala benci dendam beradu dalam batinnya. Bertahun-tahun mengakar di pembuluh darahnya, mengacaukan realita alam pikirnya. Ia bertanya pada siapa saja dan apa saja tentang keberadaan lelaki itu. Dan pada tiap tanyanya ia selalu bertemu kepiluan lagi dan lagi. Di sana ia tertawakan dirinya sendiri, betapa bodohnya ia. Ia tangisi dirinya sendiri, betapa  malangnya ia.

Ia tak peduli pada siapapun, seperti orang-orang tak mempedulikannya. Buktinya, ketika ia berteriak-teriak di halaman rumahnya memanggil nama lelaki itu, tak satu orangpun membantunya. Ketika ia menangis, tak satupun orang berempati padanya. Yang hadir justru Pangkur, bocah berwajah polos yang sangat ia benci. Pangkur dengan keluguannya menjulurkan tangan padanya.

“Ibu.” Pangkur memanggilnya.

            Sungguh, dalam sisa-sisa hatinya ada segenggam rindu pada bocah itu. Baru kali ini ia mendengar dengan begitu jelas sapaan “ibu” padanya. Sapaan yang terlontar dari mulut kecil dan tak berdaya itu. Seketika waktu yang gaib melambat. Ia dan bocah itu disergap kesunyian tiba-tiba. Mereka beradu pandang. Dalam diamnya masing-masing, mereka sedang bersenda gurau. Berlarian di atas gemintang dan awan-awan beraromakan kasturi.

Di antara semilir angin yang membelai rambutnya, ia rasakan  dengan segenap jiwa raga ketika tangan mungil bocah itu menyentuh kulitnya, menggamit tangannya. Ada kedamain di sana. Genggaman kecil yang meletupkan daya magis, menyelisip masuk ke palung perasaannya. Wajah yang ia benci bersinar kian terang. Setitik cahaya berpendar melewati butiran air yang keluar dari mata bocah itu, menjadi pelangi panca warna. Ia mendengar isak napas bocah itu semakin memburu. Bocah serupa lelaki itu sesenggukan di hadapannya.

“Aku... seorang ibu...?” gumamnya yang dibalas anggukan kecil bocah itu.
           
Seketika kedamian itu mengabur, “Orang gila... orang gila...” teriakan segerombol anak membahana, “anak orang gila... anak orang gila...” lanjut mereka membuyarkan segalanya.
            Pangkur dengan kaki kecil berlari mengejar mereka, melempari mereka dengan batu. Anak-anak semakin terkekeh mengejek melihat tingkah Pangkur.

            “Ibuku bukan orang gila!” tangis Pangkur pecah.

            Dengan tertatih ia hampiri Pangkur. Ia lihat bocah itu terduduk dan menunduk. Tangisnya menyayat luka hatinya semakin lebar lagi. Di kejauhan anak-anak melenyap di antara tawa mereka. Ia jatuhkan dirinya, duduk di samping Pangkur.

            “Ibu di sini.” bisiknya.

            Ia usap kepala mungil bocah itu. Ia rebahkan tubuh kecil itu ke tubuhnya. Erat-erat ia memeluknya. Semakin erat dan erat. Tangannya menelusur ke leher lalu mencengkeramnya. Semakin kuat dan kuat. Senyum duka menyembul dari bibirnya.

            “Jangan menangis lagi! Tidurlah! Ibu menjagamu di sini.”

            Ia pandangi mata anak itu dalam-dalam. Di sana hadir bayangan lelaki bermata licik itu. Semakin kuat ia mencengkeram leher bocah itu. Terdengar suara kemerosak ketika kaki kecil itu menendang-nendang daun kering di tanah. Tangan mungilnya mencoba menahan cengkeramannya yang kuat, tapi nihil. Tenaganya terlalu kuat untuk anak sekecil itu.

Sesaat kemudian yang terjadi adalah hening. Hening. Hening. Tak terdengar lagi desah napas bocah itu. Tubuh kecil itu terkulai layu di tanah, tak bergerak lagi. Ia menangis. Tangisan yang memecah semesta langit.



Sangen, Madiun
16 Januari 2018
12.35

Selasa, 30 Januari 2018 0 komentar

Antara Mi Instant dan Proses

ANTARA MIE INSTANT DAN PROSES

Jika tengah malam lapar menyerang saya, biasanya yang saya lakukan adalah memasak mi instant. Dan, sepengetahuan saya, kebanyakan orang juga melakukan hal serupa. Kenapa mi instant? Karena memasaknya mudah, prktis, tidak ribet, dan prosesnya cepat. Proses pembuatannya yang cepat itulah membuat mi instant menjadi sebuah pilihan ketika dibutuhkan segera.

Ketika itu ada seorang teman yang pernah mengucapkan sebuah ungkapan kepada saya.
“Selamat berproses.”

Benak saya waktu itu langsung tertuju pada mie instant. Yang mana mie instant sebelum disajikan harus melalui proses terlebih dahulu. Maka dengan itu, terpatrilah pemahaman saya bahwa proses adalah mie instant. Setelahnya, saya sudah tak pusing lagi memikirkan ungkapan itu.
          
Beberapa bulan kemudian waktu menempatkan saya pada sebuah kesempatan untuk bermain peran dengan teman-teman Teater Bissik. Di sana mau tidak mau pikiran saya tertuju kembali pada kata-kata proses. Karena hampir setiap malam saya mendengar kata-kata itu terucap. Di mana kala itu kira-kira kurang lebih 3 bulan waktu yang saya dan teman-teman Teater Bissik butuhkan untuk berlatih. 4 kali dalam seminggu, bahkan setelah mendekati hari H pementasan, hampir setiap hari kami berlatih.
          
Saya dan teman-teman larut dalam rutinitas yang monoton. Jenuh dan bosan sudah barang tentu. Tapi keputusan sudah didapat, dan semua harus berjalan ke arah yang telah disepakati. Pikiran dan perasaan saya serasa diaduk-aduk. Belum lagi hal-hal lain yang turut berbaur. Sedih, tangis, tawa, kadang suka, kadang lucu dan benci bercampur tak karuan. Hingga akhirnya saya temui kebuntuan akal pikiran saya. Dalam keadaan Get Stuck saya mencoba kembali pada diri saya. Mencoba berkontemplasi.
          
Saya mendapat pencerahan. Apa yang dulu pernah terpatri dalam pikiran saya kembali muncul. Namun tak sekuat dulu karena mulai memudar. Bahwa manusia lebih rumit daripada mie instant. Kita adalah makhluk multidimensi. Kurang pas jika saya menganalogikannya dengan mie instant.
          
Jika saya ibaratkan Teater Bissik adalah sebuah panci yang sangat besar, sebuah penggorengan raksasa. Di mana manusia di dalamnya siap untuk dimasak, lebih tepatnya diproses untuk dijadikan sesuatu yang lain dan memiliki nilai guna. Dan yang memproses adalah individunya masing-masing, bukan orang lain. Karena seberapapun besar orang lain berbuat untuk merubahnya, jika individu yang bersangkutan tak pernah mau bergerak maka mustahil akan dapat berkembang. Teman-teman malah menyebut Teater Bissik adalah miniatur kehidupan. Di  sana bukan hanya tempat untuk sekedar bermain peran, tapi tempat untuk belajar hidup dan tentang kehidupan. Bukan hanya menjadi sebuah tempat berekspresi lalu pentas dan selesai. Tapi yang terpenting adalah proses interaksi antar manusia di dalamnya, untuk saling memahami, saling mengerti, saling berempati, saling bekerja sama, saling menjaga tanggung jawab.
          
Kini 10 tahun sudah Teater Bissik berproses. Dan produksi terakhirnya adalah pementasan Raksasa. Meski saya tak turut terlibat di dalamnya, tetapi aura prosesnya mengusik saya untuk berproses kembali dengan teman Teater Bissik. Proses memang terasa sangat melelahkan dan pahit, tapi anehnya saya tak pernah kapok. Saya ingin mencoba dan terus mencoba. Berusaha menjadi manusia yang sesungguhnya.
          
Percayalah, proses tak sesederhana proses membuat mie instant. Oleh karenanya segala sesuatu yang instant hanya membuat kita segera lapar lagi. Dan tentunya tak sehat untuk dikonsumsi terus menerus. Berproseslah untuk menjadi manusia yang sehat. Untuk menjadi manusia yang seutuhnya, yang berdaya dan berguna. Saya berproses, anda berproses, kita semua berproses dan begitulah seterusnya dan seharusnya manusia hidup.
          
Selamat berproses!




Rian Ciputra
Selasa, 23 Januari 2018 0 komentar

Kolor Laten

Jika dalam ilmu fisika, kalor laten adalah kalor yang diperlukan oleh satu kilogram zat untuk berubah wujud, yang mana kalor laten disebut juga dengan kalor tersembunyi. Lalu bagaimana dengan kolor laten? Sederhananya adalah kolor yang diperlukan untuk berubah. Berubah secara tingkah laku.

Percayalah, bagi “sebagian besar” laki-laki mungkin juga wanita, saya tidak tahu karena saya laki-laki, pemilihan sebuah kolor sangat berpengaruh pada berlangsungnya aktivitas dalam sehari. Seperti yang saya katakan, kalor dapat merubah benda sementara kolor dapat merubah sikap. Salah memilih kolor bisa berdampak buruk. Pernahkah anda memakai kolor yang ternyata karetnya sudah melar? Jika pernah, saya kira anda juga pernah merasa sangat tidak nyaman dengan itu. Berkali-kali kita akan disibukkan dengan membetulkan kolor yang terus melorot. Atau mungkin lebih parah lagi, membetulkan letak karet kolor di pantat atau selakangan yang sudah tidak bisa lagi menjalankan fungsinya dengan baik. Jika kegiatan anda hanya di rumah atau bekerja dengan benda mati seperti di depan komputer, hal itu tak jadi soal karena anda bisa memperbaiki letak kolor sesering yang anda mau. Tapi jika anda berkerja dengan banyak orang, ceritanya akan lain. Sikap dan tingkah laku anda bisa berubah seiring usaha anda menahan ketidaknyamanan karena terganggu kolor melar. Meskipun kolor bertempat di bagian yang sangat tersembunyi, tetapi mempunyai pengaruh yang cukup besar. Solusinya gampang, sebelum mengawali kegiatan pilihlah kolor yang memang benar-benar bagus dan sesuai dari almari anda. Intinya adalah memilih dengan bijak.
           
Jadi, memilah sebelum menjatuhkan pilihan itu penting karena salah memilih bisa berdampak tidak baik. Seperti halnya pada pilkada yang sebentar lagi akan dilaksanakan hampir serentak di seluruh Indonesia. Hanya saja, memilih seorang pemimpin daerah tak semudah kita memilih kolor untuk dipakai. Memilih kepala daerah butuh kejelian dan kepekaan. Jangan hanya karena berdasarkan pada nilai-nilai rupiah atau politik praktis. Biasanya yang seperti itu akan membuat kita tidak nyaman bukan hanya sehari tetapi lima tahun ke depan. Jika memilih kolor kita dapat melihat bentuk dan wujudnya, memilih kepala daerah kita akan dihadapkan pada hal-hal abstrak yang gaib. Para calon akan menyajikan kita janji-janji. Kita diminta untuk meraba-raba apa yang menjadi unggulan mereka sebagai seorang yang akan memipin kita lima tahun ke depan. Jadi pilihlah dengan bijak, amati, dan perhatikan sungguh-sungguh bukan hanya dengan perkiraan. Karena perkiraan itu sama halnya kita memilih kolor yang tersembunyi dalam celana orang dengan meraba-rabanya untuk mengetahui warnanya apa. Selamat memilih dan jangan lupa pakai kolor.
Senin, 22 Januari 2018 0 komentar

Hidup itu Memilih

                                                                                                                                              Masih dengan yang namanya passion. Lalu apa yang dicari ketika ternyata kehidupan menuntut hal lain yang lebih penting dari pada sebuah passion atau keinginan. Pada satu titik itulah kita selalu diminta untuk memilih, karena pada dasarnya hidup adalah memilih. Dan ketika saya mencoba untuk berani memilih, yang terjadi kemudian adalah ternyata saya terjebak pada sebuah kenyataan yang menuntut saya. Terus menuntut untuk sekedar melanjutkan hidup. Saya tak tahu lagi harus berbuat apa. Antara menuruti apa yang menjadi keinginan saya atau hidup harus berjalan. Mungkin memang terdengar gila, dan memang ini adalah sebuah kegilaan tak terarah.

Ketika banyak orang mengatakan ikuti nalurimu, apa yang membuatmu merasa hidup dengan hal yang kamu cintai. Oke... that’s true... tapi selebihnya kita akan dihadapkan pada realita yang jauh berbeda dengan sekedar apa yang ada di angan-angan. Kehidupan itu ibarat dua mata pisau, selalu ada resiko pada tiap pilihan kita. Kita mau terpenjara dalam kenyamanan atau merdeka dengan keterbatasan. Karena ketika memilih yang harus dijalani adalah kita membangun kembali, membentuk sebuah fondasi. Percayalah, itu tak segampang dalam bayangan.
           
Hampir setiap hari dalam otak terbersit kata “aku harus keluar, berhenti.” Karena ekspektasi itu harus dibayar begitu mahal. Sering saya dengar, ketika kamu merasa kamu harus berhenti, di situlah sebanarnya titik terdekatmu dengan apa yang kamu harapkan. Tapi sekali lagi itu harus dibayar dengan amat sangat mahal. Sangat mahal.

Pada posisi ini saya hanya dihadapkan pada dua buah pertanyaan, apa yang sudah saya lakukan? Dan apa yang akan saya kerjakan? Fuck...
           

            
Sabtu, 20 Januari 2018 0 komentar

Ketika Sakit Perut

      Ketika sakit perut, hal yang harus diingat dan diwaspadai adalah makanan apa yang masuk ke dalamnya. Itu penting karena apa yang kita makan akan diproses di dalam perut sebelum sari patinya diedarkan ke seluruh tubuh dan sisanya dibuang. Jadi, kalau perut kita sakit hampir bisa dipastikan ada yang salah dengan makanan kita. Makanan yang baik kecil kemungkinan untuk membuat perut kita sakit, tapi makanan yang buruk bisa jadi bukan hanya membuat perut sakit tapi juga merusak organ tubuh yang lain. Memilah dan memilih makanan itu penting karena hal baik akan menghasilkan yang baik, begitu pula sebaliknya.

       Tuhan memberkati kita dengan sistem tubuh yang luar biasa hebatnya untuk dapat beradaptasi dalam kondisi apapun. Walaupun begitu, sebaiknya kita tidak semena-mena memasukkan sesuatu ke dalam tubuh. Seringnya kebanyakan dari kita masa bodoh dengan apa saja yang masuk, dan akibatnya tubuh kita akan bekerja lebih berat dan bukan tidak mungkin akan terjadi hal yang tidak baik seperti perut yang sakit karena makanan yang buruk.

           Bukan hanya makanan yang perlu diperhatikan sebelum masuk ke dalam tubuh kita, segala sesuatu di sekitar kita juga perlu diperhatikan. Karena seperti makanan, segala hal yang masuk ke dalam tubuh kita akan diproses dan akan berefek pada tubuh kita. Jika yang masuk baik maka efeknya pun baik pula, jika yang masuk buruk efeknya pun buruk. Apa yang ada dalam kepala kita adalah hasil proses dari berbagai macam informasi yang kita baca, dengar dan saksikan setiap harinya. Dari sanalah otak menyerapnya lalu mengeluarkannya lagi lewat obrolan, dari mulut atau jari-jari ketika mengetik keyboard HP dan laptop. Masalahnya yang terjadi belakangan ini adalah kita amat sangat sulit memilah mana informasi yang baik dan mana informasi yang buruk. Semuanya bercampur aduk jadi satu. Adanya media sosial menjadikan setiap orang dari berbagai kalangan bisa mengakses dan menyebarkan informasinya yang membuat silang sengkarut antara fakta dan opini pribadi. Hampir segala bentuk informasi bisa kita dapatkan dari sana, mulai dari berita, hiburan, guyonan, dan bahkan hujatan serta caci maki.

Kabar jeleknya adalah dari sanalah kebanyakan kita mencari informasi. Ibarat kata menggali informasi dari media sosial sama halnya kita sedang mengorek-ngorek tempat sampah untuk mencari makanan. Bukan berarti media sosial itu buruk, tetapi karena di sana sudah begitu banyak orang membuang sampah. Segala hal bercampur aduk di sana. Mereka mendapat makanan dan langsung membuangnya tanpa adanya proses pencernaan terlebih dahulu. Sebagus apapun makanannya ketika dibuang akan menjadi busuk, kecuali makanan dengan bahan pengawet. Dan itupun juga buruk bagi kesehatan. Jadi tak heran jika saat ini banyak orang keracunan kata-kata dan kalimat. Seakan mereka adalah seorang ahli.

Jangan heran jika sekarang kita bisa menemukan mereka, para ahli dadakan ini, bertumpuk-tumpuk tumpang tindih di timbunan sampah kata-kata media sosial. Mereka akan sangat piawai ngomong soal politik, pandai berargumen jika diajak debat agama yang seakan memiliki pengetahuan amat luas. Apakah kenyataannya mereka memang benar-benar pandai, entahlah? Mungkin mereka memang benar-benar pandai, tapi saya yakin hanya sebagian kecil. Sebagian besar dari mereka adalah seperti tong yang berisi angin, nyaring bunyinya. Dan angin memang harus keluar daripada masuk angin, dengan bau yang tak sedap.

Mungkin mereka seperti saya yang sedang sakit perut karena salah makan, hanya saja bukan perut mereka yang sakit tapi otak mereka. Sakit karena salah makanan atau bahkan keracunan informasi sehingga membuat mereka kehilangan akal. Sayangnya mereka tak sadar kalau mereka sedang sakit, jadi susah untuk diobati.

Dari pada kita mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencari mana yang baik dan buruk untuk tubuh kita lebih baik membaca buku sajalah. Buku yang memang sudah diyakini kebaikan. Makanan yang baik akan menjadikan tubuh menjadi sehat dan tentunya berkualitas untuk kehidupan. Makanan yang buruk akan membuat tubuh sakit, percayalah, hal itu tidak enak dan sangat merugikan. 
0 komentar

Belajar dari Jalanan

Benar sekiranya jika ada pernyataan bahwa jalan raya adalah cermin perilaku bangsa. Karena dari jalan raya kita dapat melihat berbagai wajah. Di sanalah tempat bertemunya orang-orang. Saling lalu lalang, dan biasanya tanpa tegur sapa. Jikapun ada tegur sapa, pastinya hanya beberapa orang yang sudah saling mengenal. Semua orang sibuk dengan dirinya dan tujuan masing-masing. Saya akan menuju ke sana, dan kamu entah ke mana saya tak peduli. Dan tiap-tiap orang yang anda temui tak akan bertanya ke mana anda pergi dan juga sebaliknya, andapun juga tak akan mungkin menanyakan satu persatu orang akan pergi ke mana. Itu adalah hak ppribadi. Tak sopan rasanya jika anda menanyakan, bahkan memaksa untuk ikut ke arah tujuan anda.

Di jalan raya pula segala perilaku manusia muncul. Saya yakin anda pasti pernah mengendarai kendaraan anda di jalanan, terutama pada jam sibuk. Di sana kita lihat bagaimana perangai manusia begitu beragam. Ada yang sabar berjalan, ada yang ngebut, ada yang serobot kanan kiri, ada yang santai, ada pula yang ugal-ugalan. Dari sanalah kita dapat bercermin. Melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Dan apakah kita termasuk yang baik atau yang buruk?

Sepanjang sepengetahuan saya, pagi ketika waktu orang berangkat bekerja adalah saat orang menjadi sangat egois. Mereka mengejar waktu, memenuhi kebutuhan pribadi agar sampai ke tempat tujuan dengan segera.

Begitulah yang terjadi dengan bangsa ini. Kebanyakan orang saling tak peduli. Yang dipedulikan hanya kebutuhan dan tujuan masing-masing.

Pemerintah tak ada kepedulian. Perangainya menunjukan keegoisan mereka yang hanya ingin mencapai tujuan pribadi. Sementara kita sebagai rakyat tanpa sadar juga sibuk dengan tujuan kita. Yang terkadang bersikap ugal-ugalan, serobot sana serobot sini, sikut sana sikut sini tanpa peduli dengan orang lain demi sampai ke tujuan. Teriak-teriak tentang kebenaran, menuntut dan terus menuntut orang lain tanpa pernah menuntut diri kita sendiri. Bukan berarti kita tak boleh menuntut. Hanya saja kita harus lebih arif dalam menyampaikan sesuatu dan begitu pula sebaliknya. Dengan begitu, tak perlu ada saling emosi dan amarah yang meledak-ladak. Karena hal itu hanya akan menghabiskan energy saja.

Memang sudah sewajarnya tak ada tegur sapa di jalanan. Tapi bukan berarti kita saling tak peduli. Sudah sewajarnya pula setiap orang berjalan ke arah tujuan masing-masing. Tapi tak berarti kita harus egois. Kita hanya perlu untuk saling peduli. Jika diistilahkan “jangan sampai kita menabrak, bukan jangan sampai kita ditabrak.” Dari ungkapan tersebut, dapat ditarik kesimpulan, bahwa jangan sampai menabrak kita akan lebih peduli pada orang lain. Kita akan berusaha agar tidak menabrak orang lain. Berbeda dengan jangan sampai ditabrak. Kita akan menjadi sangat egois. Seenaknya sendiri tanpa peduli orang lain. Yang penting tidak tertabrak, masa bodoh dengan orang lain.

Dari jalanan kita dapat belajar banyak tentang negeri ini. belajar untuk sampai ke tujuan tanpa merugikan orang lain. Belajar untuk saling peduli dengan tidak menyerobot, dengan tidak ugal-ugalan, dengan mematuhi rambu lalu lintas, dan dengan sabar, dan juga dengan tanpa klakson di lampu merah.

Tak perlulah kita menengok kata-kata yang sering kita dengar. Bahwa kesabaran kita sudah di ubun-ubun karena telah 32 tahun kita terkekang. Bahwa kesabaran kita sudah habis karena pemerintah tetap bersikap seperti anak-anak. Bahwa amarah kita sudah tak terbendung karena korupsi ada di mana-mana. Muncul satu kasus dan kasus lain terlupakan. Kepala kita menjadi penuh dengan hal-hal yang menyesakkan. Saling berhimpitan dan mematri keegoisan dalam diri kita.

Lupakan semua itu, yang kita tuju adalah masa depan. Kita harus memulainya dari diri kita, dari hal-hal kecil, dan dari sekarang. Demi masa depan yang baik untuk semua orang. Dengan cara saling peduli, sehingga nantinya bangsa ini akan lebih bermartabat dan arif. Demi masa depan yang baik bukan hanya bagi segelintir orang namun bagi semua orang.
 
;