Selasa, 30 Januari 2018

Antara Mi Instant dan Proses

ANTARA MIE INSTANT DAN PROSES

Jika tengah malam lapar menyerang saya, biasanya yang saya lakukan adalah memasak mi instant. Dan, sepengetahuan saya, kebanyakan orang juga melakukan hal serupa. Kenapa mi instant? Karena memasaknya mudah, prktis, tidak ribet, dan prosesnya cepat. Proses pembuatannya yang cepat itulah membuat mi instant menjadi sebuah pilihan ketika dibutuhkan segera.

Ketika itu ada seorang teman yang pernah mengucapkan sebuah ungkapan kepada saya.
“Selamat berproses.”

Benak saya waktu itu langsung tertuju pada mie instant. Yang mana mie instant sebelum disajikan harus melalui proses terlebih dahulu. Maka dengan itu, terpatrilah pemahaman saya bahwa proses adalah mie instant. Setelahnya, saya sudah tak pusing lagi memikirkan ungkapan itu.
          
Beberapa bulan kemudian waktu menempatkan saya pada sebuah kesempatan untuk bermain peran dengan teman-teman Teater Bissik. Di sana mau tidak mau pikiran saya tertuju kembali pada kata-kata proses. Karena hampir setiap malam saya mendengar kata-kata itu terucap. Di mana kala itu kira-kira kurang lebih 3 bulan waktu yang saya dan teman-teman Teater Bissik butuhkan untuk berlatih. 4 kali dalam seminggu, bahkan setelah mendekati hari H pementasan, hampir setiap hari kami berlatih.
          
Saya dan teman-teman larut dalam rutinitas yang monoton. Jenuh dan bosan sudah barang tentu. Tapi keputusan sudah didapat, dan semua harus berjalan ke arah yang telah disepakati. Pikiran dan perasaan saya serasa diaduk-aduk. Belum lagi hal-hal lain yang turut berbaur. Sedih, tangis, tawa, kadang suka, kadang lucu dan benci bercampur tak karuan. Hingga akhirnya saya temui kebuntuan akal pikiran saya. Dalam keadaan Get Stuck saya mencoba kembali pada diri saya. Mencoba berkontemplasi.
          
Saya mendapat pencerahan. Apa yang dulu pernah terpatri dalam pikiran saya kembali muncul. Namun tak sekuat dulu karena mulai memudar. Bahwa manusia lebih rumit daripada mie instant. Kita adalah makhluk multidimensi. Kurang pas jika saya menganalogikannya dengan mie instant.
          
Jika saya ibaratkan Teater Bissik adalah sebuah panci yang sangat besar, sebuah penggorengan raksasa. Di mana manusia di dalamnya siap untuk dimasak, lebih tepatnya diproses untuk dijadikan sesuatu yang lain dan memiliki nilai guna. Dan yang memproses adalah individunya masing-masing, bukan orang lain. Karena seberapapun besar orang lain berbuat untuk merubahnya, jika individu yang bersangkutan tak pernah mau bergerak maka mustahil akan dapat berkembang. Teman-teman malah menyebut Teater Bissik adalah miniatur kehidupan. Di  sana bukan hanya tempat untuk sekedar bermain peran, tapi tempat untuk belajar hidup dan tentang kehidupan. Bukan hanya menjadi sebuah tempat berekspresi lalu pentas dan selesai. Tapi yang terpenting adalah proses interaksi antar manusia di dalamnya, untuk saling memahami, saling mengerti, saling berempati, saling bekerja sama, saling menjaga tanggung jawab.
          
Kini 10 tahun sudah Teater Bissik berproses. Dan produksi terakhirnya adalah pementasan Raksasa. Meski saya tak turut terlibat di dalamnya, tetapi aura prosesnya mengusik saya untuk berproses kembali dengan teman Teater Bissik. Proses memang terasa sangat melelahkan dan pahit, tapi anehnya saya tak pernah kapok. Saya ingin mencoba dan terus mencoba. Berusaha menjadi manusia yang sesungguhnya.
          
Percayalah, proses tak sesederhana proses membuat mie instant. Oleh karenanya segala sesuatu yang instant hanya membuat kita segera lapar lagi. Dan tentunya tak sehat untuk dikonsumsi terus menerus. Berproseslah untuk menjadi manusia yang sehat. Untuk menjadi manusia yang seutuhnya, yang berdaya dan berguna. Saya berproses, anda berproses, kita semua berproses dan begitulah seterusnya dan seharusnya manusia hidup.
          
Selamat berproses!




Rian Ciputra

0 komentar:

Posting Komentar

 
;