Jumat, 10 Mei 2019

Ngoceh


Waktu amat lama untuk sekedar menengokmu, Kawan. Ya begitu lama. Aku seperti terlarut dalam hiruk pikuk yang aku sendiri antara meyakininya dan tidak. Aku terhempas begitu saja. Aku berada di persimpangan, lalu kini aku ada di puncak ketidak jelasanku. Bayangan esok selalu kabur. Aku takut apa yang aku takutkan terjadi. Bukan hanya padaku, tapi pada anak-anakku… oh ya aku sudah punya dua anak. Memang sudah lama sekali sejak terkahir kali aku menengokmu.
            
Kau boleh saja menyebutku orang tak tahu diri, tak tahu diuntung. Okelah… itu aku di mana ketika aku ada di persimpangan jalanku aku selalu ingin bertemu denganmu. Lalu dengan siapa lagi aku kabarkan, aku keluhkan segalanya jika bukan padamu. Kau satu-satunya temanku yang benar-benar mengerti aku.
            
Dadaku semakin sesak, otakku berjubel. Entahlah… dari mana kesalahan ini dimulai. Aku bingung harus bagaimana. Kuliah di IKIP seperti bukan keinginanku, ambil jurusan bukan karena pertimbangan yang matang, aku lulus dan bekerja mengajar di sekolah juga bukan hasratku. Menjadi guru bukanlah cita-citaku. Lalu bagaimana aku ini…? Ketika aku putuskan untuk resign dari sekolah, sepertinya saat itu adalah hal yang benar, dan hal tepat untuk kuambil. Dan sepenuhnya menjadi seperti seorang “seniman”. Tapi lambat laun, waktu seakan berputar semakin cepat dan lebih cepat. Aku tergulung ombaknya yang dahsyat… aku tak mampu mengendalikannya. Aku dalam kebingungan dan kebuntuan. Sementara dalam diamku, di kepalaku bergelayutan pertanyaan demi pertanyaan… bagaimana dengan hari esok, bagaimana dengan anak-anakmu. Okelah, saat ini aku masih kuat, tenaga dan pikiranku masih segar untuk berpikir.
            
Aku masih sanggup untuk berkarya, saat ini. Tapi lima tahun lagi… sepuluh tahun lagi… apakah kualitas karyaku akan tetap seperti ini, lebih bagus, atau bahkan mati sama sekali. Lalu bagaimana dengan anak-anak? Pendidikan mereka, masa depan mereka…? Duh Gusti… hambamu ini bukanlah seorang manusia patuh pada Engkau, namun kepada siapa lagi hamba memohon jika bukan kepada Engkau. Engkaulah satu-satunya dzat tempatku bergantung selama ini. Hamba tak pernah sekalipun menyekutukan Engkau. Hamba memanglah seoarang yang malas. Malas menyembah-Mu… tapi ke mana lagi hamba memohon…
            
Malam ini… langit cerah seperti biasanya. Hawanya panas… Meski harusnya aku beristirahat untuk berangkat ke Surabaya dini hari nanti, mataku tak mampu terpejam. Pikiran-pikiran itu bergelayutan di sana. Di batang otakku yang dungu ini.
            
Tes CPNS… Dan aku masih ragu pada hatiku. Aku adalah orang yang tak tahu apakah aku. Mengejar khayalan, mimpi, dan tak melihat kenyataan… ah Bajingan…! Andaikan dulu ada kesempatan untukku. Andai dulu aku tidak berkuliah di IKIP… andai dulu… andai dulu… andai dulu… dan andai aku bisa memutar waktu…
           
Harus bagaimana lagi…?

0 komentar:

Posting Komentar

 
;