Jumat, 10 Mei 2019

Aku dan Aku


Dini hari dan sepi. Temaram rembulan mengikat waktu. Kertas-kertas berserak dalam kamarku. Pun juga lembaran-lembaran memoriku, mengambang dalam alam imaji. Kugoreskan lagi tinta ke selembar kertas, samasekali tak membantu ungkap segala rasa ini. Satu yang menyesak, ragu. Pernah kusampaikan pada daun, tapi angin menggugurkannya. Takdir memang misteri, dingin seperti pagi. Saat aku ikuti hidup, ternyata itu sedikit membuatku kecewa. Ingin rasanya kembali lagi ke awal.
            
Kuterawangi jam dinding di kamarku, seakan memutar ke waktu lalu. Kisah demi kisah terurai, laiknya pertunjukan drama. Kuikuti dengan kesadaranku. Mengalir begitu saja, tanpa harus aku bersusah payah. Semua seperti terjadi kemarin sore, tapi itu sudah lama sekali.
            
Wajah itu menghambur. Menyeruak dalam angan. Apa itu? Apa itu ragu? Tak jelas. Ingin kupungkiri, semakin kucoba semakin aku kepayahan. “Itu bukan takdir!” Aku tegaskan pada hatiku. Aku bersembunyi di balik ilalang, sinarnya menohokku, mencekat langkahku untuk berlari. Akupun hanya mematung. Angin menampari wajahku, mencoba membangunkan. Hingga akhirnya kutepis semua bayangan itu. Aku memaki diriku sendiri. Ingin rasanya kuludahi mukaku. Aku terkapar saat gemintang meminjamkan kesadarannya.
            
Aku memang terlahir dari birahi. Tapi haruskah untuk itu tujuannya. Memang, ketika kurangkai kembali susunan cerita itu adalah sebuah alunan tembang, aku tak tahu apakah indah atau tidak. Semua tak jelas.  Aku mencoba memahami hatiku sendiri. Aku dengarkan celotehannya. Dan tulisan inipun berawal dari debat kusir yang tidak jelas. Namun ijinkan aku memperjelasnya.

Kokok ayam di luar sana buyarkan lamunanku. Kutengok jam dinding yang tergantung di tembok belakang, jam setengah tiga. Aaah…. Ragaku belum terasa mengantuk. Aku tak ingin tidur, tapi bagaimana dengan esok. Segudang pekerjaan sudah menantiku. Aku harus kembali lagi ke dunia nyata. Timbul sebuah tanya dalam hatiku.

“Bagaimana bisa aku dulu terbelenggu dalam rutinitas membosankan? Bukankan manusia tercipta sebagai makhluk yang dinamis? Sebagai makhluk yang terus dan harus berubah.”
      
“Anganku menjawab, hidup memang seperti itu. Segalanya berputar, berawal lalu berakhir dan kembali lagi dari awal. Seperti memainkan game dalam computer, jika sudah game over maka akan diulang lagi dari awal. Yang berbeda adalah proses perjalanannya.”
            
“Tapi manusia bukan komputer, bukan pula robot yang harus melakukan kegiatan-kegiatan berulang. Kita adalah makhluk pemberontak.”
           
“Kata-katamu bisa dianggap benar, tapi itu terlalu berlebihan. Keadaan yang mengharuskan manusia seperti ini, kita dididik untuk mematuhi aturan-aturan yang telah digariskan. Kita telah dicetak untuk berjalan sesuai pada rel. Agar kehidupan menjadi lebih terarah. Apa yang akan terjadi seandainya semua orang memberontak?”
            
“Jangkauan pikiranmu terlalu jauh, bukan seperti itu yang dimaksud. Manusia seharusnya mampu berpikir multi ruang, tidak terkotak pada ruang-ruang tertentu. Sepertinya aku kecewa pada system pendidikan yang selama ini kita anut. Kita dicetak seperti robot, kita ditanami hafalan-hafalan, bukan pemahaman. Itulah mengapa kita sering terjebak dalam rutinitas. Kita kurang bisa mencerna makna-makna, itulah mengapa kita sering kehilangan arah.”
           
“Termasuk kau?”
            
“Seperti itulah.”
            
“Maksudmu?”
           
“Mungkin seperti itu.”
            
“Kamu yang seperti itu?”
           
“Ya…ya…ya… tidak usah diperjelas.”
           
“Kejelasan itu perlu, sesuatu yang tidak jelas……”
            
“Berbahaya. Itu kan maksudnya?” kupotong sendiri kalimat anganku.
            
“Sudahlah, ayo tidur. Esok banyak tugas yang harus diselesaikan. Aku butuh energi untuk menyelesaikan semua tugas itu.”
            
“Aku ingin bebas barang sekejap saja. Aku bahagia dengan semua imaji ini. Pikiranku sudah terlalu lelah. Berpikir ini dan itu tanpa ada penyelesaian. Aku ingin tidak berpikir, berilah aku waktu, tolong…”
            
“Kau salah besar! Kodrat kita adalah untuk berpikir, itulah kesaktian kita sebagai manusia. Jangan jadi pengecut, apa yang kau takutkan pasti akan terjadi, meskipun kau coba untuk tidak berpikir.”
           
“Sesukamulah.”
           
“Kau terlalu apatis.”
            
“Aku hanya mencoba untuk beristirahat. Itu saja.”
           
“Keadaan tidak memungkinkan, keadaan menuntut kita terus berlari.”
           
“Keadaan, keadaan apa tidak ada kata lain selain keadaan. Terlalu banyak kemunafikan di sana-sini. Seharusnya lebih tepat merekalah yang kau sebut apatis. Dan kalau semua apatis kenapa aku tidak seperti itu saja. Bukankah keadaan mengharuskan kita seperti itu?”
            
“Jangan kau hitamkan seluruh hatimu! Berilah sedikit ruang untuk aku, agar aku tetap bisa membimbingmu. Kau masih punya banyak teman, kau masih bisa melakukan hal-hal kesukaanmu, sedikit banyak keinginanmu masih terpenuhi.”
           
“Yang aku butuhkan adalah pijakan yang lebih menguatkan aku. Aku sedang mengalir bersama arus tanpa pegangan. Aku takut aku terlalu jauh terbawa arus.”
           
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
          
“Aku tidak tahu, aku tak punya kekuatan, aku lemah, aku terkoyak, aku hancur luluh bersama angin yang memeras seluruh jiwa ragaku.”

Aku tertawa sendiri mendengar alur pikiranku.
         
“Kau terlalu hiperbola mengiaskannya. Setiap langkah akan ada akhir, bukankah kau sendiri yang mengatakannya. Segala sesuatunya berawal dan berakhir.”
            
“Entahlah…! Aku tak tahu…!”
           
“Jangan kau mulai lagi sikap apatismu!”
           
“Ok…ok… baiklah. Aku akan bersikap lebih peduli. Tapi aku juga butuh kepedulian itu.”
            
“Matamu telah dibutakan alur berpikirmu yang mulai tak waras. Banyak yang peduli padamu. Kau saja yang terlalu menutup hatimu, sehingga kau mempersempit ruang gerakku. Kau sendiri mengatakan bahwa kau adalah sesuatu yang dinamis, akupun butuh itu.”
            
“Lalu aku harus bagaimana?”
           
“Sudahlah, tidurlah dulu. Setiap hari waktumu tidur hanya tiga jam.”
            
“Tidur itu membuang-buang waktu saja. Kau tadi mengatakan kita harus berpikir. Tidur mengurangi waktuku untuk berpikir.”
            
“Tapi tidak dengan hati yang membeku. Pikiranmu terlalu kacau, percuma kau meneruskannya. Yang kau temui di akhir hanyalah awal, dan kau akan terus berputar-putar tanpa arah.”
           
“Kenapa kau selalu mengguruiku?”
            
“Aku nuranimu…!”
           
“Mmmmh…. Aku lupa, aku lupa.”
            
“Aku adalah milikmu, terserah kau apakan aku. Tapi selama masih ada sedikit ruang di hatimu untukku, aku akan menemanimu. Sekarang tengoklah jam dinding, dia terus berputar tanpa henti. Kehidupannya monoton tapi dia lakukan dengan sesungguh hati.. Dia berikan apa yang bisa ia berikan, dari itulah dia akan tetap dibutuhkan. Tidurlah dulu esok malam aku akan mengunjungimu lagi.”
            
Hari sudah terlalu dini, dinginnya menusuk hingga ke tulang-tulangku. Aku ambil jaketku di gantungan kamar. Dunia terus berputar begitu juga detik-detik di jam dinding. Dan ketika kutengok,
         
“Aaaaaaaah…. Jam empat lebih lima menit.”
            
Tubuhku terasa agak tidak enak, linu-linu semua rasanya. Tanpa pikir panjang kusahut fatigon di dalam tasku, langsung kutenggak dengan harapan tubuhku menjadi lebih fit. Kukemasi buku-buku yang terserak di meja. Waktuku aku habiskan dengan membaca dan membaca, kalau  tidak aku akan menulis. Menulis apa saja. Dengan itu semua sepertinya jiwaku mendapat pelepasan dari keterkekangan. Aku tutup laptopku, mencabut stekernya dan kutinggalkan begitu saja di meja. Aku sudah lelah. Dan esok pasti akan lebih melelahkan.
            
Kurebahkan tubuhku di kasur, aku menumpuk dua bantalku menjadi satu, biar darah mengalir turun dari otakku yang ruwet. Kuraih gulingku kudekap dalam tubuh berjaketku. Dinginnya… aku meraih selimut di pojok kananku dekat kepala. Aku gulung tubuhku dengan selimut putih. Lelah… aku ingin memejamkan mata. Aku ingin mimpiku terbang kelangit mencapai matahari kebebasan… Selamat tidur Nurani… selamat istirahat Otakku… Semoga esok lebih baik lagi…. Tidur… tidur…


23-09-2009





Dini hari lagi. Kenapa waktu begitu cepat berlalu

Kawan,
Ajarkanlah kepadaku tentang makna kehidupan.
Tapi, jangan kau beritahu bagaimana aku harus hidup.
Aku masih ingat ketika kau katakan padaku bahwa kita semua mengalami kehidupan dengan kesulitan masing-masing.
Tapi, bukan itu yang ingin kudapatkan darimu. Aku ingin sesuatu yang membuatku mengerti tentang eksistensi, tentang refleksi diri, tentang siapa kita sebenarnya. Kalaupun aku sulit untuk mengerti, paling tidak aku tahu akan hal itu.
Oh ya kawan, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Kau sudah mengenal aku lama sekali, bahkan apa yang jadi milikku juga milikmu, begitu juga sebaliknya, dan tentunya kau pasti paham diriku. Satu hal yang ingin kutanyakan, dan tolong jawablah dengan seluruh kejujuranmu.
Apakah aku seorang pengecut, yang kalah dengan dirinya sendiri?

……….
……….
……….

Tidak, jangan diam kawan. Aku ingin mengetahuinya, aku ingin mendengarnya….

“Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan itu, nanti kamu bisa stress dan memicu asam lambungmu… lebih baik santai saja, ok.”

Kenapa juga kau tak menjawab pertanyaan simple itu kawan. Apakah kau tak mengerti, dengan sikapmu seperti itu malah membuatku menjadi tak berdaya.
Yaaaaah baiklah kawan, lebih baik kita bicarakan hal lainnya saja. Oh ya, bagaimana kehidupanmu sekarang…?
Tunggu, jangan, jangan kau jawab, itu malah mambuat kita kembali ke soal jawab tadi.
………..
………..
Lalu kita harus bicara tentang apa?  Kita sudah lama tidak bertemu.





0 komentar:

Posting Komentar

 
;