Garis waktu kembali ingatkanku. Di
batas malam, lima jam lalu, kembali aku menengok apa yang telah berlalu. Kau
tahu, beberapa persen ambisi telah mengantar kita, aku dan kamu, pada situasi
ini. Proses panjang yang pada dasarnya untuk pembuktian-pembuktian. Sekian lama
aku bertaruh dan untuk kesekian kalinya aku berharap, semoga esok sedikit
menjadi agak bijak.
Hidup kini begitu sulit, lalu rumit. Aku harus memutar otak untuk menyambung asa. Esok entah apa lagi yang akan diperbuat. Aku sekadar berjalan pada takdir, yang alurnya bergelayutan. Selebihnya, dan kumohon pun juga kau, mari bersimpuh dengan penuh harap belas kasih Yang Kuasa untuk segala konsep di kepala agar terlahir menjadi buih-buih keberkahan.
Waktu gaib memang perkasa, dan biarlah ketetapan itu begitu. Biarkan segalanya, biar berjatuhan mirip hujan seperti kemarin, seperti lusa, seperti sebelum-sebelumnya. Toh kita tak sanggup berbuat apa-apa. Kita pernah melalui puluhan episode hidup ini, dan kita akan melewatinya lagi, percayalah. Mari kita tonjok rembulan, menangkap angin.
Kita hanya perlu membuktikannya lagi, Buk. Ayo bergerak.
Hidup kini begitu sulit, lalu rumit. Aku harus memutar otak untuk menyambung asa. Esok entah apa lagi yang akan diperbuat. Aku sekadar berjalan pada takdir, yang alurnya bergelayutan. Selebihnya, dan kumohon pun juga kau, mari bersimpuh dengan penuh harap belas kasih Yang Kuasa untuk segala konsep di kepala agar terlahir menjadi buih-buih keberkahan.
Waktu gaib memang perkasa, dan biarlah ketetapan itu begitu. Biarkan segalanya, biar berjatuhan mirip hujan seperti kemarin, seperti lusa, seperti sebelum-sebelumnya. Toh kita tak sanggup berbuat apa-apa. Kita pernah melalui puluhan episode hidup ini, dan kita akan melewatinya lagi, percayalah. Mari kita tonjok rembulan, menangkap angin.
Kita hanya perlu membuktikannya lagi, Buk. Ayo bergerak.

0 komentar:
Posting Komentar