Gurat kebencian tergambar jelas
tiap kali ia memandang wajahnya. Kilatan masa lalu bermunculan, menghujam dan
menohok ulu atinya. Ada segumpal bara dalam batinnya, menyala-nyala membakar
amarahnya. Saat ingatan itu tergambar nyata, emosinya memuncak. Andai waktu
bisa ditukar, ia akan gadaikan apa saja untuk mengganti masa lalunya. Masa lalu
yang tak pernah ia harapkan.
Sebenarnya, telah puluhan kali bahkan
ratusan, petuah bijak ia dengarkan dari mulut tua seorang wanita yang ia
panggil ibu. Semuanya menguap tak bersisa. Pitutur luhur tak membuat luka
hatinya membaik. Ia tak ingin peduli lagi pada kata-kata. Baginya, kata-kata
tak ayalnya omong kosong. Hampa, sehampa hidupnya.
“Waktu terus berlalu, Nduk.” ucap lirih
wanita tua dari mulutnya. “Tapi hati dan pikiranmu tertinggal amat jauh, jauh
sekali.”
Entahlah, langit pasti telah meminjamkan
kesabaran tak terbatas pada wanita tua itu. Wanita yang tak pernah bergeming
menghadapi takdir, seorang diri. Garis wajahnya mendeskripsikan egoisnya
kehidupan pada tubuh lemahnya. Letih lelah tak sedikitpun memberinya celah meletakkan
pundak. Ia jalankan tugasnya sesuai pada porsinya. Wanita tua itu, seorang ibu
dan nenek dengan ketulusan selaksa dewi-dewi.
“Lelaki itu... bajingan! Lelaki itu... bajingan! Lelaki
itu... bajingan!” umpatnya lirih tanpa mau berhenti.
Harapnya, dengan melakukannya ia
mampu meredam dendam, memudarkan berkas benci pada lelaki itu. Percuma, ia tak
berdaya. Ia tak sanggup melawan gelombangnya. Selalu ada yang membuatnya
kembali mengingat wajah lelaki bermata licik itu.
“Pergi! Aku tak sudi melihat
wajahmu!” usirnya.
Wajah polos itu setiap hari ingin bermanja kepadanya namun
selalu ia balas sebaliknya. Yang terjadi selanjutnya adalah tangisan tak
berdaya seorang bocah yang belum genap enam tahun.
Kemiripan wajah yang nyaris sempurna
membuat ia membenci bocah itu. Bahkan, cahaya matanya serupa dengan sorot mata
licik lelaki yang ia ingin lupakan. Hanya bedanya, ada seutas ketulusan di mata
bocah berwajah polos itu. Namun, kala dendam menguasai dirinya, seakan ia
adalah sosok bengis tak kenal ampun. Ia akan melempar apa saja yang ada di
dekatnya. Memaki serta mengumpat siapa saja dalam jangkauan pandangannya,
terlebih bocah berwajah polos itu. Jika itu terjadi, yang bisa dilakukan bocah berwajah
polos itu hanya membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan wanita tua, neneknya, yang
selama ini menjaga hatinya untuk mencari perlindungan.
Pangkur, bocah polos berwajah serupa
lelaki bermata licik itu bernama Pangkur. Bukan ia yang menamainya. Ia tak mau
menyentuhnya, tak ingin melihat wajahnya. Nama Pangkur adalah pemberian sang
nenek, wanita tua itu. Neneklah yang dengan cukup setia merawat bocah yang ia
lahirkan, yang dengan sabar pula mengajarkan tentang hidup dan kehidupan pada
bocah itu. Dari dekapan nenek, Pangkur mendapat kasih sayang seorang ibu.
Sebuah perasaan yang tak ia berikan pada anak yang lahir dari rahimnya.
Sering ia dengar ujaran wanita tua
itu pada sang bocah, bahwa lelaki harus punya tanggung jawab.
“Pangkur, nenek semakin menua, kelak
kaulah yang harus menjaga ibumu. Kau lelaki.” kata nenek suatu ketika. Setelahnya,
ia tak mendengar bocah itu membalas kata-kata neneknya. Hanya suara gemerantang
sendok beradu piring alumunium yang sampai di telinganya. Bocah itu sedang
makan.
Dalam kesendiriannya, suara-suara
sendok piring itu mengantarkan pada kenangan yang telah lampau. Suatu waktu ketika
lelaki itu menyantap makanan terakhir yang ia suguhkan di meja yang kini
dipakai Pangkur meletakkan piring makannya.
“Aku akan segera kembali.” kata
lelaki bermata licik itu dengan mulut penuh nasi sayur.
“Jadi kau akan meninggalkanku dalam
keadaan hamil?”
“Bersabarlah.” dengan tergesa lelaki
itu menghabiskan santapannya lalu beranjak pergi, “Ini untuk masa depan kita,
masa depan calon anak kita nantinya.”
Setelah percakapan itu, ia tak
pernah lagi bertemu dengan lelaki itu. Pun tidak kabarnya. Lelaki itu hilang
bagai uap. Ia mencoba bersabar menunggu. Sebulan, dua bulan hingga hampir ia
melahirkan, lelaki itu tak kunjung datang. Kesabarannya berubah menjadi kesumat
yang sedikit demi sedikit menenggelamkannya. Ia lupa siapa dirinya. Lupa bahwa
ia telah menjadi seorang ibu.
Pangkur lahir di tengah penantian
tak tentunya. Kelahirannya harusnya menjadi pelipur lara, tapi bukan itu yang
terjadi. Dulu ketika lelaki itu datang, dadanya penuh aroma surgawi.
Hari-harinya berhias bunga-bunga. Betapa indah rajutan mimpi-mimpi yang
diberikan lelaki itu. Lelaki itu pula yang telah mampu memetik hatinya hingga
ia tergolek layu. Dalam ketakberdayaannya, ia pasrahkan segalanya. Ia serahkan
seluruh hidupnya. Ia ingin bersandar dan bergantung pada lelaki itu, selamanya.
Ternyata kehendak takdir tak senada dengan harapannya.
Kini hampir genap tujuh tahun sejak kepergian lelaki itu.
Segala benci dendam beradu dalam batinnya. Bertahun-tahun mengakar di pembuluh
darahnya, mengacaukan realita alam pikirnya. Ia bertanya pada siapa saja dan
apa saja tentang keberadaan lelaki itu. Dan pada tiap tanyanya ia selalu
bertemu kepiluan lagi dan lagi. Di sana ia tertawakan dirinya sendiri, betapa
bodohnya ia. Ia tangisi dirinya sendiri, betapa
malangnya ia.
Ia tak peduli pada siapapun, seperti orang-orang tak
mempedulikannya. Buktinya, ketika ia berteriak-teriak di halaman rumahnya
memanggil nama lelaki itu, tak satu orangpun membantunya. Ketika ia menangis,
tak satupun orang berempati padanya. Yang hadir justru Pangkur, bocah berwajah
polos yang sangat ia benci. Pangkur dengan keluguannya menjulurkan tangan
padanya.
“Ibu.” Pangkur memanggilnya.
Sungguh, dalam sisa-sisa hatinya ada
segenggam rindu pada bocah itu. Baru kali ini ia mendengar dengan begitu jelas
sapaan “ibu” padanya. Sapaan yang terlontar dari mulut kecil dan tak berdaya
itu. Seketika waktu yang gaib melambat. Ia dan bocah itu disergap kesunyian
tiba-tiba. Mereka beradu pandang. Dalam diamnya masing-masing, mereka sedang
bersenda gurau. Berlarian di atas gemintang dan awan-awan beraromakan kasturi.
Di antara semilir angin yang membelai rambutnya, ia rasakan
dengan segenap jiwa raga ketika tangan
mungil bocah itu menyentuh kulitnya, menggamit tangannya. Ada kedamain di sana.
Genggaman kecil yang meletupkan daya magis, menyelisip masuk ke palung
perasaannya. Wajah yang ia benci bersinar kian terang. Setitik cahaya berpendar
melewati butiran air yang keluar dari mata bocah itu, menjadi pelangi panca
warna. Ia mendengar isak napas bocah itu semakin memburu. Bocah serupa lelaki
itu sesenggukan di hadapannya.
“Aku... seorang ibu...?” gumamnya yang dibalas anggukan
kecil bocah itu.
Seketika kedamian itu mengabur, “Orang gila... orang
gila...” teriakan segerombol anak membahana, “anak orang gila... anak orang
gila...” lanjut mereka membuyarkan segalanya.
Pangkur dengan kaki kecil berlari
mengejar mereka, melempari mereka dengan batu. Anak-anak semakin terkekeh
mengejek melihat tingkah Pangkur.
“Ibuku bukan orang gila!” tangis
Pangkur pecah.
Dengan tertatih ia hampiri Pangkur.
Ia lihat bocah itu terduduk dan menunduk. Tangisnya menyayat luka hatinya
semakin lebar lagi. Di kejauhan anak-anak melenyap di antara tawa mereka. Ia jatuhkan
dirinya, duduk di samping Pangkur.
“Ibu di sini.” bisiknya.
Ia usap kepala mungil bocah itu. Ia
rebahkan tubuh kecil itu ke tubuhnya. Erat-erat ia memeluknya. Semakin erat dan
erat. Tangannya menelusur ke leher lalu mencengkeramnya. Semakin kuat dan kuat.
Senyum duka menyembul dari bibirnya.
“Jangan menangis lagi! Tidurlah! Ibu
menjagamu di sini.”
Ia pandangi mata anak itu
dalam-dalam. Di sana hadir bayangan lelaki bermata licik itu. Semakin kuat ia
mencengkeram leher bocah itu. Terdengar suara kemerosak ketika kaki kecil itu
menendang-nendang daun kering di tanah. Tangan mungilnya mencoba menahan
cengkeramannya yang kuat, tapi nihil. Tenaganya terlalu kuat untuk anak sekecil
itu.
Sesaat kemudian yang terjadi adalah hening. Hening. Hening.
Tak terdengar lagi desah napas bocah itu. Tubuh kecil itu terkulai layu di
tanah, tak bergerak lagi. Ia menangis. Tangisan yang memecah semesta langit.
Sangen,
Madiun
16
Januari 2018
12.35

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact