Jumat, 17 Mei 2019 0 komentar

Semangat itu telah lenyap....

Masih saja aku ada di persimpangan jalan. Entah apa lagi yang bisa aku perbuat. Kehidupan sudah mematahkan hatiku berkali-kali, hingga layu, hingga menjadi abu tak terbentuk. Akankah esok ada secercah harapan? Sepertinya harapan hanya akan jadi sekedar harapan. Pada kenyataannya seperti yang sudah lalu. Ia ada namun hanya untuk diangan saja.

Udara pagi dan kesendirian ini tiba-tiba mengantarkanku ke masa lalu. Lagu Sheilla on Seven yang terus berputar menggiring ingatanku ke masa di mana sepertinya dunia masih belum begitu rumit. Hari-hari selalu cerah seperti mentari pagi. Aku rindu seperti itu. Aku ingin kembali. Namun apalah daya, penyesalan selalu datang di belakang hari.
          
Ah... sudahlah, setiap selalu seperti ini. Tak ada seorang yang tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatiku. Percuma juga berteriak namun tak ada yang mendengarnya.
               
Pada akhirnya pupus sudah semua harapan. Semangatku hilang sudah. Aku seperti berjalan tanpa tujuan. Entah apa lagi yang bisa aku lakukan. Apakah masih sama seperti kemarin? Apakah hasratku masih sama? Entahlah... rasanya api semangat itu sudah pupus, lenyap bersama hari-hari membosankan ini. Siapa lagi yang bisa menolongku...? Aku sudah tak berdaya dan lemah di sini. Terkapar di tumpukan hiruk pikuk pagi yang selalu memburu.

Sabtu, 11 Mei 2019 0 komentar

Mimpi itu...

Kawan, banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Sepertinya dunia ini begitu saja menghempaskan semua mimpi. Nyatanya, harapan tak pernah senada dengan kenyataan. Harapan hanya akan menjadi harapan.
      
Aku menjadi pecundang yang tak bisa berbuat apa-apa. Sementara langit jingga terus berputar. Aku terdiam di sudut, melihat orang-orang begitu ikhlasnya menjalani takdir mereka. Sedang aku, hanya seonggok tubuh yang tak berdaya apa-apa. Pagi hanya jadi tempat pelarian dari kungkungan nilai-nilai. Untuk sekedar tak disebut sebagai pengangguran. Semua ini kujalani dengan separuh nyawa. Pada akhirnya aku juga harus menyerah pada takdir. Waktu memang perkasa, kita tak bisa mengalahkannya. Gusti... berilah petunjuk pada hambamu ini. Hamba sedang dirundung duka. Sedih yang meruntuhkan seluruh keyakinanku... lalu apa arti hari kemarin yang pernah diperjuangkan... jika hari ini, dan esok sepertinya akan menjadi uap tanpa makna.
   
Gairahku untuk menjalani hidup hanya sekedar menjalaninya. Berharap satu terselesaikan, dan semoga esok akan lebih baik lagi. Akulah yang pecuncang, dilangkahi kehidupan yang sepertinya tak pernah sejalan denganku.

Jumat, 10 Mei 2019 0 komentar

Buatmu, Buk...

Biarkan aku coba menerka apa yang terlintas dalam imajimu meski remang dalam pekat. Karena kamu adalah misteri, dan tetaplah begitu hari ini, esok, lusa dan ratusan tahun lagi. Siksa aku dalam kubangan tanya, biar aku terus mencarimu. Di tikungan-tikungan pikiranmu, dalam senyap tidurmu, ketika candaanmu, saat emosimu mulai mengasap kembali. Itulah kamu apa adanya.

Tengok lagi apa yang ada dalam angan kita. Mungkin ini dan itu, mungkin apa dan kenapa atau bagaimana. Ah masa bodoh… langitpun bahkan tercengang tak mengerti, mencoba meraba apa yang terjadi. Begitulah, karena sekali lagi kita adalah misteri. Tapi aku akan memungutnya, kurangkai lalu kutempel di sudut hatiku. Bukan untuk siapa dan apa, tapi kunikmati lukisan abstrak karya hidupmu itu sendiri, meski hanya tercipta dari cat tembok dan pigmen merah. Kau boleh saja tak tahu, karena kita bukan untuk dimengerti. Kau hanya perlu memukul tambur itu. Maka, ijinkan aku menjadi sutradaranya dan kau ciptakanlah musik untukku. Satu persatu akan kukaitkan setiap tetesan asa menjadi sebuah drama surrealis. Bersama-sama kita tinju rembulan, gemintang dan sebagainya. 

Terimakasih atas segala pengabdianmu selama ini. Untuk setiap butir nasi yang kau hidangkan padaku setiap paginya, di tiap tetesan air yang kau tuangkan dalam gelasku. Juga tiap helai benang pakaian yang kau cuci dan setrika. Semoga menjadi saksi kelak di peradilan Allah. Betapa ikhlasmu dapat menjangkau celah-celah hatiku. Dalam diam dan angkuhku, setiap nafasku adalah do’a untukmu.
0 komentar

Untukmu dan Untukku


Garis waktu kembali ingatkanku. Di batas malam, lima jam lalu, kembali aku menengok apa yang telah berlalu. Kau tahu, beberapa persen ambisi telah mengantar kita, aku dan kamu, pada situasi ini. Proses panjang yang pada dasarnya untuk pembuktian-pembuktian. Sekian lama aku bertaruh dan untuk kesekian kalinya aku berharap, semoga esok sedikit menjadi agak bijak.

Hidup kini begitu sulit, lalu rumit. Aku harus memutar otak untuk menyambung asa. Esok entah apa lagi yang akan diperbuat. Aku sekadar berjalan pada takdir, yang alurnya bergelayutan. Selebihnya, dan kumohon pun juga kau, mari bersimpuh dengan penuh harap belas kasih Yang Kuasa untuk segala konsep di kepala agar terlahir menjadi buih-buih keberkahan.

Waktu gaib memang perkasa, dan biarlah ketetapan itu begitu. Biarkan segalanya, biar berjatuhan mirip hujan seperti kemarin, seperti lusa, seperti sebelum-sebelumnya. Toh kita tak sanggup berbuat apa-apa. Kita pernah melalui puluhan episode hidup ini, dan kita akan melewatinya lagi, percayalah. Mari kita tonjok rembulan, menangkap angin.

Kita hanya perlu membuktikannya lagi, Buk. Ayo bergerak.

0 komentar

Ngoceh


Waktu amat lama untuk sekedar menengokmu, Kawan. Ya begitu lama. Aku seperti terlarut dalam hiruk pikuk yang aku sendiri antara meyakininya dan tidak. Aku terhempas begitu saja. Aku berada di persimpangan, lalu kini aku ada di puncak ketidak jelasanku. Bayangan esok selalu kabur. Aku takut apa yang aku takutkan terjadi. Bukan hanya padaku, tapi pada anak-anakku… oh ya aku sudah punya dua anak. Memang sudah lama sekali sejak terkahir kali aku menengokmu.
            
Kau boleh saja menyebutku orang tak tahu diri, tak tahu diuntung. Okelah… itu aku di mana ketika aku ada di persimpangan jalanku aku selalu ingin bertemu denganmu. Lalu dengan siapa lagi aku kabarkan, aku keluhkan segalanya jika bukan padamu. Kau satu-satunya temanku yang benar-benar mengerti aku.
            
Dadaku semakin sesak, otakku berjubel. Entahlah… dari mana kesalahan ini dimulai. Aku bingung harus bagaimana. Kuliah di IKIP seperti bukan keinginanku, ambil jurusan bukan karena pertimbangan yang matang, aku lulus dan bekerja mengajar di sekolah juga bukan hasratku. Menjadi guru bukanlah cita-citaku. Lalu bagaimana aku ini…? Ketika aku putuskan untuk resign dari sekolah, sepertinya saat itu adalah hal yang benar, dan hal tepat untuk kuambil. Dan sepenuhnya menjadi seperti seorang “seniman”. Tapi lambat laun, waktu seakan berputar semakin cepat dan lebih cepat. Aku tergulung ombaknya yang dahsyat… aku tak mampu mengendalikannya. Aku dalam kebingungan dan kebuntuan. Sementara dalam diamku, di kepalaku bergelayutan pertanyaan demi pertanyaan… bagaimana dengan hari esok, bagaimana dengan anak-anakmu. Okelah, saat ini aku masih kuat, tenaga dan pikiranku masih segar untuk berpikir.
            
Aku masih sanggup untuk berkarya, saat ini. Tapi lima tahun lagi… sepuluh tahun lagi… apakah kualitas karyaku akan tetap seperti ini, lebih bagus, atau bahkan mati sama sekali. Lalu bagaimana dengan anak-anak? Pendidikan mereka, masa depan mereka…? Duh Gusti… hambamu ini bukanlah seorang manusia patuh pada Engkau, namun kepada siapa lagi hamba memohon jika bukan kepada Engkau. Engkaulah satu-satunya dzat tempatku bergantung selama ini. Hamba tak pernah sekalipun menyekutukan Engkau. Hamba memanglah seoarang yang malas. Malas menyembah-Mu… tapi ke mana lagi hamba memohon…
            
Malam ini… langit cerah seperti biasanya. Hawanya panas… Meski harusnya aku beristirahat untuk berangkat ke Surabaya dini hari nanti, mataku tak mampu terpejam. Pikiran-pikiran itu bergelayutan di sana. Di batang otakku yang dungu ini.
            
Tes CPNS… Dan aku masih ragu pada hatiku. Aku adalah orang yang tak tahu apakah aku. Mengejar khayalan, mimpi, dan tak melihat kenyataan… ah Bajingan…! Andaikan dulu ada kesempatan untukku. Andai dulu aku tidak berkuliah di IKIP… andai dulu… andai dulu… andai dulu… dan andai aku bisa memutar waktu…
           
Harus bagaimana lagi…?

0 komentar

Aku dan Aku


Dini hari dan sepi. Temaram rembulan mengikat waktu. Kertas-kertas berserak dalam kamarku. Pun juga lembaran-lembaran memoriku, mengambang dalam alam imaji. Kugoreskan lagi tinta ke selembar kertas, samasekali tak membantu ungkap segala rasa ini. Satu yang menyesak, ragu. Pernah kusampaikan pada daun, tapi angin menggugurkannya. Takdir memang misteri, dingin seperti pagi. Saat aku ikuti hidup, ternyata itu sedikit membuatku kecewa. Ingin rasanya kembali lagi ke awal.
            
Kuterawangi jam dinding di kamarku, seakan memutar ke waktu lalu. Kisah demi kisah terurai, laiknya pertunjukan drama. Kuikuti dengan kesadaranku. Mengalir begitu saja, tanpa harus aku bersusah payah. Semua seperti terjadi kemarin sore, tapi itu sudah lama sekali.
            
Wajah itu menghambur. Menyeruak dalam angan. Apa itu? Apa itu ragu? Tak jelas. Ingin kupungkiri, semakin kucoba semakin aku kepayahan. “Itu bukan takdir!” Aku tegaskan pada hatiku. Aku bersembunyi di balik ilalang, sinarnya menohokku, mencekat langkahku untuk berlari. Akupun hanya mematung. Angin menampari wajahku, mencoba membangunkan. Hingga akhirnya kutepis semua bayangan itu. Aku memaki diriku sendiri. Ingin rasanya kuludahi mukaku. Aku terkapar saat gemintang meminjamkan kesadarannya.
            
Aku memang terlahir dari birahi. Tapi haruskah untuk itu tujuannya. Memang, ketika kurangkai kembali susunan cerita itu adalah sebuah alunan tembang, aku tak tahu apakah indah atau tidak. Semua tak jelas.  Aku mencoba memahami hatiku sendiri. Aku dengarkan celotehannya. Dan tulisan inipun berawal dari debat kusir yang tidak jelas. Namun ijinkan aku memperjelasnya.

Kokok ayam di luar sana buyarkan lamunanku. Kutengok jam dinding yang tergantung di tembok belakang, jam setengah tiga. Aaah…. Ragaku belum terasa mengantuk. Aku tak ingin tidur, tapi bagaimana dengan esok. Segudang pekerjaan sudah menantiku. Aku harus kembali lagi ke dunia nyata. Timbul sebuah tanya dalam hatiku.

“Bagaimana bisa aku dulu terbelenggu dalam rutinitas membosankan? Bukankan manusia tercipta sebagai makhluk yang dinamis? Sebagai makhluk yang terus dan harus berubah.”
      
“Anganku menjawab, hidup memang seperti itu. Segalanya berputar, berawal lalu berakhir dan kembali lagi dari awal. Seperti memainkan game dalam computer, jika sudah game over maka akan diulang lagi dari awal. Yang berbeda adalah proses perjalanannya.”
            
“Tapi manusia bukan komputer, bukan pula robot yang harus melakukan kegiatan-kegiatan berulang. Kita adalah makhluk pemberontak.”
           
“Kata-katamu bisa dianggap benar, tapi itu terlalu berlebihan. Keadaan yang mengharuskan manusia seperti ini, kita dididik untuk mematuhi aturan-aturan yang telah digariskan. Kita telah dicetak untuk berjalan sesuai pada rel. Agar kehidupan menjadi lebih terarah. Apa yang akan terjadi seandainya semua orang memberontak?”
            
“Jangkauan pikiranmu terlalu jauh, bukan seperti itu yang dimaksud. Manusia seharusnya mampu berpikir multi ruang, tidak terkotak pada ruang-ruang tertentu. Sepertinya aku kecewa pada system pendidikan yang selama ini kita anut. Kita dicetak seperti robot, kita ditanami hafalan-hafalan, bukan pemahaman. Itulah mengapa kita sering terjebak dalam rutinitas. Kita kurang bisa mencerna makna-makna, itulah mengapa kita sering kehilangan arah.”
           
“Termasuk kau?”
            
“Seperti itulah.”
            
“Maksudmu?”
           
“Mungkin seperti itu.”
            
“Kamu yang seperti itu?”
           
“Ya…ya…ya… tidak usah diperjelas.”
           
“Kejelasan itu perlu, sesuatu yang tidak jelas……”
            
“Berbahaya. Itu kan maksudnya?” kupotong sendiri kalimat anganku.
            
“Sudahlah, ayo tidur. Esok banyak tugas yang harus diselesaikan. Aku butuh energi untuk menyelesaikan semua tugas itu.”
            
“Aku ingin bebas barang sekejap saja. Aku bahagia dengan semua imaji ini. Pikiranku sudah terlalu lelah. Berpikir ini dan itu tanpa ada penyelesaian. Aku ingin tidak berpikir, berilah aku waktu, tolong…”
            
“Kau salah besar! Kodrat kita adalah untuk berpikir, itulah kesaktian kita sebagai manusia. Jangan jadi pengecut, apa yang kau takutkan pasti akan terjadi, meskipun kau coba untuk tidak berpikir.”
           
“Sesukamulah.”
           
“Kau terlalu apatis.”
            
“Aku hanya mencoba untuk beristirahat. Itu saja.”
           
“Keadaan tidak memungkinkan, keadaan menuntut kita terus berlari.”
           
“Keadaan, keadaan apa tidak ada kata lain selain keadaan. Terlalu banyak kemunafikan di sana-sini. Seharusnya lebih tepat merekalah yang kau sebut apatis. Dan kalau semua apatis kenapa aku tidak seperti itu saja. Bukankah keadaan mengharuskan kita seperti itu?”
            
“Jangan kau hitamkan seluruh hatimu! Berilah sedikit ruang untuk aku, agar aku tetap bisa membimbingmu. Kau masih punya banyak teman, kau masih bisa melakukan hal-hal kesukaanmu, sedikit banyak keinginanmu masih terpenuhi.”
           
“Yang aku butuhkan adalah pijakan yang lebih menguatkan aku. Aku sedang mengalir bersama arus tanpa pegangan. Aku takut aku terlalu jauh terbawa arus.”
           
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
          
“Aku tidak tahu, aku tak punya kekuatan, aku lemah, aku terkoyak, aku hancur luluh bersama angin yang memeras seluruh jiwa ragaku.”

Aku tertawa sendiri mendengar alur pikiranku.
         
“Kau terlalu hiperbola mengiaskannya. Setiap langkah akan ada akhir, bukankah kau sendiri yang mengatakannya. Segala sesuatunya berawal dan berakhir.”
            
“Entahlah…! Aku tak tahu…!”
           
“Jangan kau mulai lagi sikap apatismu!”
           
“Ok…ok… baiklah. Aku akan bersikap lebih peduli. Tapi aku juga butuh kepedulian itu.”
            
“Matamu telah dibutakan alur berpikirmu yang mulai tak waras. Banyak yang peduli padamu. Kau saja yang terlalu menutup hatimu, sehingga kau mempersempit ruang gerakku. Kau sendiri mengatakan bahwa kau adalah sesuatu yang dinamis, akupun butuh itu.”
            
“Lalu aku harus bagaimana?”
           
“Sudahlah, tidurlah dulu. Setiap hari waktumu tidur hanya tiga jam.”
            
“Tidur itu membuang-buang waktu saja. Kau tadi mengatakan kita harus berpikir. Tidur mengurangi waktuku untuk berpikir.”
            
“Tapi tidak dengan hati yang membeku. Pikiranmu terlalu kacau, percuma kau meneruskannya. Yang kau temui di akhir hanyalah awal, dan kau akan terus berputar-putar tanpa arah.”
           
“Kenapa kau selalu mengguruiku?”
            
“Aku nuranimu…!”
           
“Mmmmh…. Aku lupa, aku lupa.”
            
“Aku adalah milikmu, terserah kau apakan aku. Tapi selama masih ada sedikit ruang di hatimu untukku, aku akan menemanimu. Sekarang tengoklah jam dinding, dia terus berputar tanpa henti. Kehidupannya monoton tapi dia lakukan dengan sesungguh hati.. Dia berikan apa yang bisa ia berikan, dari itulah dia akan tetap dibutuhkan. Tidurlah dulu esok malam aku akan mengunjungimu lagi.”
            
Hari sudah terlalu dini, dinginnya menusuk hingga ke tulang-tulangku. Aku ambil jaketku di gantungan kamar. Dunia terus berputar begitu juga detik-detik di jam dinding. Dan ketika kutengok,
         
“Aaaaaaaah…. Jam empat lebih lima menit.”
            
Tubuhku terasa agak tidak enak, linu-linu semua rasanya. Tanpa pikir panjang kusahut fatigon di dalam tasku, langsung kutenggak dengan harapan tubuhku menjadi lebih fit. Kukemasi buku-buku yang terserak di meja. Waktuku aku habiskan dengan membaca dan membaca, kalau  tidak aku akan menulis. Menulis apa saja. Dengan itu semua sepertinya jiwaku mendapat pelepasan dari keterkekangan. Aku tutup laptopku, mencabut stekernya dan kutinggalkan begitu saja di meja. Aku sudah lelah. Dan esok pasti akan lebih melelahkan.
            
Kurebahkan tubuhku di kasur, aku menumpuk dua bantalku menjadi satu, biar darah mengalir turun dari otakku yang ruwet. Kuraih gulingku kudekap dalam tubuh berjaketku. Dinginnya… aku meraih selimut di pojok kananku dekat kepala. Aku gulung tubuhku dengan selimut putih. Lelah… aku ingin memejamkan mata. Aku ingin mimpiku terbang kelangit mencapai matahari kebebasan… Selamat tidur Nurani… selamat istirahat Otakku… Semoga esok lebih baik lagi…. Tidur… tidur…


23-09-2009





Dini hari lagi. Kenapa waktu begitu cepat berlalu

Kawan,
Ajarkanlah kepadaku tentang makna kehidupan.
Tapi, jangan kau beritahu bagaimana aku harus hidup.
Aku masih ingat ketika kau katakan padaku bahwa kita semua mengalami kehidupan dengan kesulitan masing-masing.
Tapi, bukan itu yang ingin kudapatkan darimu. Aku ingin sesuatu yang membuatku mengerti tentang eksistensi, tentang refleksi diri, tentang siapa kita sebenarnya. Kalaupun aku sulit untuk mengerti, paling tidak aku tahu akan hal itu.
Oh ya kawan, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Kau sudah mengenal aku lama sekali, bahkan apa yang jadi milikku juga milikmu, begitu juga sebaliknya, dan tentunya kau pasti paham diriku. Satu hal yang ingin kutanyakan, dan tolong jawablah dengan seluruh kejujuranmu.
Apakah aku seorang pengecut, yang kalah dengan dirinya sendiri?

……….
……….
……….

Tidak, jangan diam kawan. Aku ingin mengetahuinya, aku ingin mendengarnya….

“Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan itu, nanti kamu bisa stress dan memicu asam lambungmu… lebih baik santai saja, ok.”

Kenapa juga kau tak menjawab pertanyaan simple itu kawan. Apakah kau tak mengerti, dengan sikapmu seperti itu malah membuatku menjadi tak berdaya.
Yaaaaah baiklah kawan, lebih baik kita bicarakan hal lainnya saja. Oh ya, bagaimana kehidupanmu sekarang…?
Tunggu, jangan, jangan kau jawab, itu malah mambuat kita kembali ke soal jawab tadi.
………..
………..
Lalu kita harus bicara tentang apa?  Kita sudah lama tidak bertemu.





0 komentar

Andai Waktu Terulang


10 Mei 2019

Andai Waktu Terulang


Aroma angin sawah yang menghembus mengajakku kembali ke masa lalu. Masa ketika aku masih kecil, blo’on dan cupu. Dulu bu’e punya cermin kotak yang di tiap pinggirnya dijepit triplek agar bisa digantungkan di dinding kayu di kamar. Waktu itu entah dari mana datangnya ide untuk mewarnai tiap sisinya dengan lipstik Bu’e. Yang aku tahu setelah menghabiskan satu batang lipstik, sisi cermin itu menjadi berwarna merah dan menurutku menjadi indah. Kini aku baru paham bahwa aku sedang belajar melukis. Pernah juga aku potong pohon pisang yang masih kecil. Aku bentuk menjadi semacam candi atau apalah. Kini aku baru mengerti aku sedang belajar membuat sebuah karya patung meskipun hasilnya jelek, amat sangat jelek. Dan aku juga pernah memasang-masangkan mainan rusak yang prothol menjadi sebuah mainan baru. Dan kini aku baru sadar bahwa saat itu aku sedang membuat seni instalasi.
                
Sejak dulu aku suka mencatat hal-hal aneh. Terutama kehidupan sehari-hari. Aku menulisnya dalam buku diary. Dalam buku itu juga aku dengan begitu saja membuat sebuah percakapan antara dua orang imajiner. Dan setelah sekian lama aku baru tahu aku sedang belajar membuat naskah dan script. Padahal saat itu aku belum tahu cara membuat dialog. Aku tak paham apa itu dialog. Tapi itu datang begitu saja. Mengalir dengan sendirinya. Dari kecil aku sudah suka menggambar. Buku pelajaranku selalu penuh dengan gambar. Sebelum aku bisa bermain gitar, aku mencoba merangkai puisi-puisiku menjadi sebuah lagu yang menurtku sih bagus, tapi sebenarnya jelek.
                
Aku juga sering mengkhayal, rasanya seperti menonton film di kepalaku. Dengan peran utamanya tentu saja aku sendiri. Ketika bermain sendiri aku lebih suka memainkan orang-orangan/patung-patungan dengan memberikan mereka nama masing-masing lalu aku mendialogkannya. Aku menjadi sutradaranya.
                
Ketika SMP aku lebih suka menggambar komik. Bahkan komikku selalu beredar di kelas, dibaca oleh teman-teman sekelas. Aku suka seperti itu.
                
Tetapi percuma itu semua. Aku belum tahu siapa diriku. Aku gak mengenali diriku. Pake dan Bu’e hanya tahu menghidupi aku dengan cara konvensional. Aku disekolahkan diframing untuk bekerja menjadi PNS. Menjadi seorang guru karena Bu’e adalah guru. Tapi aku tidak suka seperti itu. Aku lebih suka dengan pekerjaan yang sifatnya kreatif. Aku mampu bekerja cukup lama dengan dalam dunia kreatif. Tapi mengajar di kelas dan menjadi ternyata cangat menyita energiku. Rasanya hampir 80 % energi harus aku keluarkan untuk sekedar bertahan di dalam kelas dan mengajar. Padahal mengajar tak membutuhkan banyak tenaga. Cukup terangkan, kasih soal, dan beres. Tetapi bagiku itu cukup melelahkan. Entahlah...
                
Andaikan waktu terulang kembali. Aku ingin memilih jalanku sendiri, tanpa ada tendensi, tanpa intervensi...

0 komentar

Bertahan adalah sama dengan Melangkah


                                                                                                                                                9 Mei 2019

Bertahan adalah sama dengan Melangkah


Ini sudah bulan ketiga aku mengajar, menjadi guru di MIN 1 Kota Madiun. Untuk saat ini bertahan sama artinya dengan melangkah. Lha wong aku itu gak suka jadi guru lho. Tapi kenapa keadaan sepertinya memaksaku untuk masuk ke dunia itu. Sepertinya aku gak bisa maksimal mengajar. Alah embuhlah... jalani saja. Persetan dengan semuanya. Bosan aku mendengar celotehan PNS dan PNS. Malas aku. Aku jadi tidak mau lagi berbuat apa-apa. Toh hasilnya juga sama. Sudah berkali-kali sebenarnya aku katakan dalam hati. Aku harus banyak bersyukur. Rezeki bukan melulu soal gaji. Ia datang dari mana saja. Akan tetapi sepertinya otakku selalu gagal menerimanya dengan tulus dan ikhlas. Selalu saja ada yang mengganjal dan membuatku menjadi kikuk. Diskusi dengan orang lain pun rasanya percuma. Paradigma berpikirnya sudah tidak senada. Jadi malah menimbulkan perdebatan yang tak ada ujungnya.
                
Kenapa orang bisa menjadi hebat di bidangnya? Ya karena ia melakukan pekerjaannya dengan setulus hatinya. Ia mencintai apa yang ia lakukan. Sementara aku, untuk mengajar saja rasanya sudah malas. Aku tidak maksimal. Dosa juga ya aku. Tapi aku tak pernah bisa membendung perasaanku ini. Ia datang dengan sendirinya, mengalir begitu saja. Berbeda ketika aku melakukan pekerjaan di bidang kreatif. Teater misalnya. Ketika mengerjakannya seakan ide itu muncul begitu saja. Ia mengalir juga tanpa terbendung. Dalam otak rasanya begitu membuncah, berjubel minta dikeluarkan. Aku tak tahu dari mana datangnya. Ia ada dengan sendirinya. Bahkan ketika masih dalam bentuk ide, aku bahkan bisa melihat dengan jelas gambaran / pentas itu dalam kepalaku. Lengkap dengan dialog, gerak, musik, setting, dan tata lampu. Kenapa bisa begitu? Aku tak tahu. Tapi ketika dihadapkan pada materi-materi pelajaran untuk diajarkan dalam kelas, aku menjadi kebingungan. Aku hanya berusaha menyampaikan apa yang dituliskan di buku. Tanpa gairah, tanpa gambaran.
                
Dan untuk yang kesekian kalinya aku merasa aku ada di tempat yang salah. Di posisi yang salah, yang sama sekali tak pernah aku inginkan. Kenapa dulu aku mau kuliah di keguruan. Karena memang tidak ada pilihan lain. Aku dulu yang belum mengenal siapa aku. Aku terlambat. Aku hanya hidup ibarat air yang mengalir.
                
Separuh hati aku menjalani semuanya. Separuh hati aku mencoba untuk berjalan. Seakan rasanya jalan ini begitu terjal. Ya semua memang butuh perjuangan, akan tetapi bukan perjuangan seperti ini yang aku inginkan. Hidup memang tak selalu sesuai keinginan kita. Okelah... dan sekali lagi aku harus terima dengan kata-kata bijak yang selalu aku dengar dan baca.
                
Aku bisa bertarung mati-matian ketika melakukan dan mengerjakan hal kreatif. Aku sanggup dan aku mampu karena aku bisa. Tapi untuk menjadi guru dan mengajar di dalam kelas rasanya gairahku tak pernah ada. Duh Gusti... kesekian kalinya hatiku selalu berserah pada-Mu... aku hanya memohon mudahkanlah segala sesuatunya. Kalau saja waktu bisa berputar kembali. Kalau saja aku bisa mengulang hidupku, merestartnya, aku tentu akan lebih mengerti jalan mana yang harus kutempuh. Namun penyesalan selalu ada di belakang. Sudahlah, rasanya percuma setiap selalu berharap demikian.
                
Kita memang hidup dalam dunia yang terbangun dengan paradigma orang lain. Kita harus bisa menyesuaikan dengan tata nilai. Dan sekali lagi aku katakan persetan. Mereka tak pernah tahu hidupku.
                
Ini sudah bulan ketiga aku harus mengajar lagi.

 
;