Dini hari dan sepi.
Temaram rembulan mengikat waktu. Kertas-kertas berserak dalam kamarku. Pun juga
lembaran-lembaran memoriku, mengambang dalam alam imaji. Kugoreskan lagi tinta
ke selembar kertas, samasekali tak membantu ungkap segala rasa ini. Satu yang
menyesak, ragu. Pernah kusampaikan pada daun, tapi angin menggugurkannya. Takdir
memang misteri, dingin seperti pagi. Saat aku ikuti hidup, ternyata itu sedikit
membuatku kecewa. Ingin rasanya kembali lagi ke awal.
Kuterawangi jam
dinding di kamarku, seakan memutar ke waktu lalu. Kisah demi kisah terurai,
laiknya pertunjukan drama. Kuikuti dengan kesadaranku. Mengalir begitu saja,
tanpa harus aku bersusah payah. Semua seperti terjadi kemarin sore, tapi itu
sudah lama sekali.
Wajah itu menghambur.
Menyeruak dalam angan. Apa itu? Apa itu ragu? Tak jelas. Ingin kupungkiri,
semakin kucoba semakin aku kepayahan. “Itu bukan takdir!” Aku tegaskan pada
hatiku. Aku bersembunyi di balik ilalang, sinarnya menohokku, mencekat
langkahku untuk berlari. Akupun hanya mematung. Angin menampari wajahku,
mencoba membangunkan. Hingga akhirnya kutepis semua bayangan itu. Aku memaki
diriku sendiri. Ingin rasanya kuludahi mukaku. Aku terkapar saat gemintang
meminjamkan kesadarannya.
Aku memang terlahir
dari birahi. Tapi haruskah untuk itu tujuannya. Memang, ketika kurangkai
kembali susunan cerita itu adalah sebuah alunan tembang, aku tak tahu apakah
indah atau tidak. Semua tak jelas. Aku
mencoba memahami hatiku sendiri. Aku dengarkan celotehannya. Dan tulisan inipun
berawal dari debat kusir yang tidak jelas. Namun ijinkan aku memperjelasnya.
Kokok ayam di luar sana
buyarkan lamunanku. Kutengok jam dinding yang tergantung di tembok belakang,
jam setengah tiga. Aaah…. Ragaku belum terasa mengantuk. Aku tak ingin tidur,
tapi bagaimana dengan esok. Segudang pekerjaan sudah menantiku. Aku harus
kembali lagi ke dunia nyata. Timbul sebuah tanya dalam hatiku.
“Bagaimana bisa aku dulu terbelenggu dalam rutinitas
membosankan? Bukankan manusia tercipta sebagai makhluk yang dinamis? Sebagai
makhluk yang terus dan harus berubah.”
“Anganku menjawab,
hidup memang seperti itu. Segalanya berputar, berawal lalu berakhir dan kembali
lagi dari awal. Seperti memainkan game dalam computer, jika sudah game over
maka akan diulang lagi dari awal. Yang berbeda adalah proses perjalanannya.”
“Tapi manusia bukan
komputer, bukan pula robot yang harus melakukan kegiatan-kegiatan berulang.
Kita adalah makhluk pemberontak.”
“Kata-katamu bisa
dianggap benar, tapi itu terlalu berlebihan. Keadaan yang mengharuskan manusia
seperti ini, kita dididik untuk mematuhi aturan-aturan yang telah digariskan.
Kita telah dicetak untuk berjalan sesuai pada rel. Agar kehidupan menjadi lebih
terarah. Apa yang akan terjadi seandainya semua orang memberontak?”
“Jangkauan
pikiranmu terlalu jauh, bukan seperti itu yang dimaksud. Manusia seharusnya
mampu berpikir multi ruang, tidak terkotak pada ruang-ruang tertentu. Sepertinya
aku kecewa pada system pendidikan yang selama ini kita anut. Kita dicetak
seperti robot, kita ditanami hafalan-hafalan, bukan pemahaman. Itulah mengapa
kita sering terjebak dalam rutinitas. Kita kurang bisa mencerna makna-makna,
itulah mengapa kita sering kehilangan arah.”
“Termasuk kau?”
“Seperti itulah.”
“Maksudmu?”
“Mungkin seperti
itu.”
“Kamu yang seperti
itu?”
“Ya…ya…ya… tidak
usah diperjelas.”
“Kejelasan itu perlu,
sesuatu yang tidak jelas……”
“Berbahaya. Itu kan maksudnya?” kupotong
sendiri kalimat anganku.
“Sudahlah, ayo
tidur. Esok banyak tugas yang harus diselesaikan. Aku butuh energi untuk
menyelesaikan semua tugas itu.”
“Aku ingin bebas
barang sekejap saja. Aku bahagia dengan semua imaji ini. Pikiranku sudah
terlalu lelah. Berpikir ini dan itu tanpa ada penyelesaian. Aku ingin tidak
berpikir, berilah aku waktu, tolong…”
“Kau salah besar!
Kodrat kita adalah untuk berpikir, itulah kesaktian kita sebagai manusia.
Jangan jadi pengecut, apa yang kau takutkan pasti akan terjadi, meskipun kau
coba untuk tidak berpikir.”
“Sesukamulah.”
“Kau terlalu
apatis.”
“Aku hanya mencoba
untuk beristirahat. Itu saja.”
“Keadaan tidak
memungkinkan, keadaan menuntut kita terus berlari.”
“Keadaan, keadaan
apa tidak ada kata lain selain keadaan. Terlalu banyak kemunafikan di
sana-sini. Seharusnya lebih tepat merekalah yang kau sebut apatis. Dan kalau
semua apatis kenapa aku tidak seperti itu saja. Bukankah keadaan mengharuskan
kita seperti itu?”
“Jangan kau
hitamkan seluruh hatimu! Berilah sedikit ruang untuk aku, agar aku tetap bisa
membimbingmu. Kau masih punya banyak teman, kau masih bisa melakukan hal-hal
kesukaanmu, sedikit banyak keinginanmu masih terpenuhi.”
“Yang aku butuhkan
adalah pijakan yang lebih menguatkan aku. Aku sedang mengalir bersama arus
tanpa pegangan. Aku takut aku terlalu jauh terbawa arus.”
“Lalu apa yang akan
kau lakukan?”
“Aku tidak tahu,
aku tak punya kekuatan, aku lemah, aku terkoyak, aku hancur luluh bersama angin
yang memeras seluruh jiwa ragaku.”
Aku tertawa sendiri mendengar alur pikiranku.
“Kau terlalu
hiperbola mengiaskannya. Setiap langkah akan ada akhir, bukankah kau sendiri
yang mengatakannya. Segala sesuatunya berawal dan berakhir.”
“Entahlah…! Aku tak
tahu…!”
“Jangan kau mulai
lagi sikap apatismu!”
“Ok…ok… baiklah.
Aku akan bersikap lebih peduli. Tapi aku juga butuh kepedulian itu.”
“Matamu telah dibutakan
alur berpikirmu yang mulai tak waras. Banyak yang peduli padamu. Kau saja yang
terlalu menutup hatimu, sehingga kau mempersempit ruang gerakku. Kau sendiri
mengatakan bahwa kau adalah sesuatu yang dinamis, akupun butuh itu.”
“Lalu aku harus
bagaimana?”
“Sudahlah, tidurlah
dulu. Setiap hari waktumu tidur hanya tiga jam.”
“Tidur itu
membuang-buang waktu saja. Kau tadi mengatakan kita harus berpikir. Tidur
mengurangi waktuku untuk berpikir.”
“Tapi tidak dengan hati
yang membeku. Pikiranmu terlalu kacau, percuma kau meneruskannya. Yang kau
temui di akhir hanyalah awal, dan kau akan terus berputar-putar tanpa arah.”
“Kenapa kau selalu
mengguruiku?”
“Aku nuranimu…!”
“Mmmmh…. Aku lupa,
aku lupa.”
“Aku adalah
milikmu, terserah kau apakan aku. Tapi selama masih ada sedikit ruang di hatimu
untukku, aku akan menemanimu. Sekarang tengoklah jam dinding, dia terus
berputar tanpa henti. Kehidupannya monoton tapi dia lakukan dengan sesungguh
hati.. Dia berikan apa yang bisa ia berikan, dari itulah dia akan tetap dibutuhkan.
Tidurlah dulu esok malam aku akan mengunjungimu lagi.”
Hari sudah terlalu
dini, dinginnya menusuk hingga ke tulang-tulangku. Aku ambil jaketku di
gantungan kamar. Dunia terus berputar begitu juga detik-detik di jam dinding.
Dan ketika kutengok,
“Aaaaaaaah…. Jam
empat lebih lima
menit.”
Tubuhku terasa agak
tidak enak, linu-linu semua rasanya. Tanpa pikir panjang kusahut fatigon di
dalam tasku, langsung kutenggak dengan harapan tubuhku menjadi lebih fit.
Kukemasi buku-buku yang terserak di meja. Waktuku aku habiskan dengan membaca
dan membaca, kalau tidak aku akan
menulis. Menulis apa saja. Dengan itu semua sepertinya jiwaku mendapat
pelepasan dari keterkekangan. Aku tutup laptopku, mencabut stekernya dan kutinggalkan
begitu saja di meja. Aku sudah lelah. Dan esok pasti akan lebih melelahkan.
Kurebahkan tubuhku
di kasur, aku menumpuk dua bantalku menjadi satu, biar darah mengalir turun
dari otakku yang ruwet. Kuraih gulingku kudekap dalam tubuh berjaketku.
Dinginnya… aku meraih selimut di pojok kananku dekat kepala. Aku gulung tubuhku
dengan selimut putih. Lelah… aku ingin memejamkan mata. Aku ingin mimpiku
terbang kelangit mencapai matahari kebebasan… Selamat tidur Nurani… selamat
istirahat Otakku… Semoga esok lebih baik lagi…. Tidur… tidur…
23-09-2009
Dini hari lagi. Kenapa waktu begitu cepat berlalu
Kawan,
Ajarkanlah kepadaku tentang makna kehidupan.
Tapi, jangan kau beritahu bagaimana aku harus hidup.
Aku masih ingat ketika kau katakan padaku bahwa kita semua mengalami
kehidupan dengan kesulitan masing-masing.
Tapi, bukan itu yang ingin kudapatkan darimu. Aku ingin sesuatu yang membuatku mengerti tentang
eksistensi, tentang refleksi diri, tentang siapa kita sebenarnya. Kalaupun aku sulit untuk mengerti, paling tidak aku tahu akan hal
itu.
Oh ya kawan, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Kau sudah mengenal
aku lama sekali, bahkan apa yang jadi milikku juga milikmu, begitu juga
sebaliknya, dan tentunya kau pasti paham diriku. Satu hal yang ingin
kutanyakan, dan tolong jawablah dengan seluruh kejujuranmu.
Apakah aku seorang pengecut, yang kalah dengan dirinya sendiri?
……….
……….
……….
Tidak, jangan diam kawan. Aku ingin mengetahuinya, aku ingin
mendengarnya….
“Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan itu, nanti kamu bisa stress
dan memicu asam lambungmu… lebih baik santai saja, ok.”
Kenapa juga kau tak menjawab pertanyaan simple itu kawan. Apakah kau
tak mengerti, dengan sikapmu seperti itu malah membuatku menjadi tak berdaya.
Yaaaaah baiklah kawan, lebih baik kita bicarakan hal lainnya saja.
Oh ya, bagaimana kehidupanmu sekarang…?
Tunggu, jangan, jangan kau jawab, itu malah mambuat kita kembali ke
soal jawab tadi.
………..
………..
Lalu kita harus bicara tentang apa? Kita sudah lama tidak bertemu.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact