10 Mei 2019
Andai Waktu Terulang
Aroma
angin sawah yang menghembus mengajakku kembali ke masa lalu. Masa ketika aku
masih kecil, blo’on dan cupu. Dulu bu’e punya cermin kotak yang di tiap
pinggirnya dijepit triplek agar bisa digantungkan di dinding kayu di kamar.
Waktu itu entah dari mana datangnya ide untuk mewarnai tiap sisinya dengan
lipstik Bu’e. Yang aku tahu setelah menghabiskan satu batang lipstik, sisi
cermin itu menjadi berwarna merah dan menurutku menjadi indah. Kini aku baru
paham bahwa aku sedang belajar melukis. Pernah juga aku potong pohon pisang
yang masih kecil. Aku bentuk menjadi semacam candi atau apalah. Kini aku baru
mengerti aku sedang belajar membuat sebuah karya patung meskipun hasilnya
jelek, amat sangat jelek. Dan aku juga pernah memasang-masangkan mainan rusak
yang prothol menjadi sebuah mainan baru. Dan kini aku baru sadar bahwa saat itu
aku sedang membuat seni instalasi.
Sejak dulu aku suka mencatat hal-hal aneh. Terutama kehidupan sehari-hari. Aku menulisnya dalam buku diary. Dalam buku itu juga aku dengan begitu saja membuat sebuah percakapan antara dua orang imajiner. Dan setelah sekian lama aku baru tahu aku sedang belajar membuat naskah dan script. Padahal saat itu aku belum tahu cara membuat dialog. Aku tak paham apa itu dialog. Tapi itu datang begitu saja. Mengalir dengan sendirinya. Dari kecil aku sudah suka menggambar. Buku pelajaranku selalu penuh dengan gambar. Sebelum aku bisa bermain gitar, aku mencoba merangkai puisi-puisiku menjadi sebuah lagu yang menurtku sih bagus, tapi sebenarnya jelek.
Aku juga sering mengkhayal, rasanya seperti menonton film di kepalaku. Dengan peran utamanya tentu saja aku sendiri. Ketika bermain sendiri aku lebih suka memainkan orang-orangan/patung-patungan dengan memberikan mereka nama masing-masing lalu aku mendialogkannya. Aku menjadi sutradaranya.
Ketika SMP aku lebih suka menggambar komik. Bahkan komikku selalu beredar di kelas, dibaca oleh teman-teman sekelas. Aku suka seperti itu.
Tetapi percuma itu semua. Aku belum tahu siapa diriku. Aku gak mengenali diriku. Pake dan Bu’e hanya tahu menghidupi aku dengan cara konvensional. Aku disekolahkan diframing untuk bekerja menjadi PNS. Menjadi seorang guru karena Bu’e adalah guru. Tapi aku tidak suka seperti itu. Aku lebih suka dengan pekerjaan yang sifatnya kreatif. Aku mampu bekerja cukup lama dengan dalam dunia kreatif. Tapi mengajar di kelas dan menjadi ternyata cangat menyita energiku. Rasanya hampir 80 % energi harus aku keluarkan untuk sekedar bertahan di dalam kelas dan mengajar. Padahal mengajar tak membutuhkan banyak tenaga. Cukup terangkan, kasih soal, dan beres. Tetapi bagiku itu cukup melelahkan. Entahlah...
Andaikan waktu terulang kembali. Aku ingin memilih jalanku sendiri, tanpa ada tendensi, tanpa intervensi...

0 komentar:
Posting Komentar