Senin, 19 Maret 2018

WAJAH


*      Pada wajah aku mengenalmu, pada wajah aku berharap, pada hati aku merindumu.


            Gurat kebencian tergambar jelas tiap kali ia memandang wajahnya. Kilatan masa lalu bermunculan, menghujam dan menohok ulu atinya. Ada segumpal bara dalam batinnya, menyala-nyala membakar amarahnya. Saat ingatan itu tergambar nyata, emosinya memuncak. Andai waktu bisa ditukar, ia akan gadaikan apa saja untuk mengganti masa lalunya. Masa lalu yang tak pernah ia harapkan.

            Sebenarnya, telah puluhan kali bahkan ratusan, petuah bijak ia dengarkan dari mulut tua seorang wanita yang ia panggil ibu. Semuanya menguap tak bersisa. Pitutur luhur tak membuat luka hatinya membaik. Ia tak ingin peduli lagi pada kata-kata. Baginya, kata-kata tak ayalnya omong kosong. Hampa, sehampa hidupnya.

            “Waktu terus berlalu, Nduk.” ucap lirih wanita tua dari mulutnya. “Tapi hati dan pikiranmu tertinggal amat jauh, jauh sekali.”

            Entahlah, langit pasti telah meminjamkan kesabaran tak terbatas pada wanita tua itu. Wanita yang tak pernah bergeming menghadapi takdir, seorang diri. Garis wajahnya mendeskripsikan egoisnya kehidupan pada tubuh lemahnya. Letih lelah tak sedikitpun memberinya celah meletakkan pundak. Ia jalankan tugasnya sesuai pada porsinya. Wanita tua itu, seorang ibu dan nenek dengan ketulusan selaksa dewi-dewi.

“Lelaki itu... bajingan! Lelaki itu... bajingan! Lelaki itu... bajingan!” umpatnya lirih tanpa mau berhenti.

            Harapnya, dengan melakukannya ia mampu meredam dendam, memudarkan berkas benci pada lelaki itu. Percuma, ia tak berdaya. Ia tak sanggup melawan gelombangnya. Selalu ada yang membuatnya kembali mengingat wajah lelaki bermata licik itu.

            “Pergi! Aku tak sudi melihat wajahmu!” usirnya.

Wajah polos itu setiap hari ingin bermanja kepadanya namun selalu ia balas sebaliknya. Yang terjadi selanjutnya adalah tangisan tak berdaya seorang bocah yang belum genap enam tahun.

            Kemiripan wajah yang nyaris sempurna membuat ia membenci bocah itu. Bahkan, cahaya matanya serupa dengan sorot mata licik lelaki yang ia ingin lupakan. Hanya bedanya, ada seutas ketulusan di mata bocah berwajah polos itu. Namun, kala dendam menguasai dirinya, seakan ia adalah sosok bengis tak kenal ampun. Ia akan melempar apa saja yang ada di dekatnya. Memaki serta mengumpat siapa saja dalam jangkauan pandangannya, terlebih bocah berwajah polos itu. Jika itu terjadi, yang bisa dilakukan bocah berwajah polos itu hanya membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan wanita tua, neneknya, yang selama ini menjaga hatinya untuk mencari perlindungan.

            Pangkur, bocah polos berwajah serupa lelaki bermata licik itu bernama Pangkur. Bukan ia yang menamainya. Ia tak mau menyentuhnya, tak ingin melihat wajahnya. Nama Pangkur adalah pemberian sang nenek, wanita tua itu. Neneklah yang dengan cukup setia merawat bocah yang ia lahirkan, yang dengan sabar pula mengajarkan tentang hidup dan kehidupan pada bocah itu. Dari dekapan nenek, Pangkur mendapat kasih sayang seorang ibu. Sebuah perasaan yang tak ia berikan pada anak yang lahir dari rahimnya.

            Sering ia dengar ujaran wanita tua itu pada sang bocah, bahwa lelaki harus punya tanggung jawab.

            “Pangkur, nenek semakin menua, kelak kaulah yang harus menjaga ibumu. Kau lelaki.” kata nenek suatu ketika. Setelahnya, ia tak mendengar bocah itu membalas kata-kata neneknya. Hanya suara gemerantang sendok beradu piring alumunium yang sampai di telinganya. Bocah itu sedang makan.

            Dalam kesendiriannya, suara-suara sendok piring itu mengantarkan pada kenangan yang telah lampau. Suatu waktu ketika lelaki itu menyantap makanan terakhir yang ia suguhkan di meja yang kini dipakai Pangkur meletakkan piring makannya.

            “Aku akan segera kembali.” kata lelaki bermata licik itu dengan mulut penuh nasi sayur.
            “Jadi kau akan meninggalkanku dalam keadaan hamil?”
            “Bersabarlah.” dengan tergesa lelaki itu menghabiskan santapannya lalu beranjak pergi, “Ini untuk masa depan kita, masa depan calon anak kita nantinya.”

            Setelah percakapan itu, ia tak pernah lagi bertemu dengan lelaki itu. Pun tidak kabarnya. Lelaki itu hilang bagai uap. Ia mencoba bersabar menunggu. Sebulan, dua bulan hingga hampir ia melahirkan, lelaki itu tak kunjung datang. Kesabarannya berubah menjadi kesumat yang sedikit demi sedikit menenggelamkannya. Ia lupa siapa dirinya. Lupa bahwa ia telah menjadi seorang ibu.

            Pangkur lahir di tengah penantian tak tentunya. Kelahirannya harusnya menjadi pelipur lara, tapi bukan itu yang terjadi. Dulu ketika lelaki itu datang, dadanya penuh aroma surgawi. Hari-harinya berhias bunga-bunga. Betapa indah rajutan mimpi-mimpi yang diberikan lelaki itu. Lelaki itu pula yang telah mampu memetik hatinya hingga ia tergolek layu. Dalam ketakberdayaannya, ia pasrahkan segalanya. Ia serahkan seluruh hidupnya. Ia ingin bersandar dan bergantung pada lelaki itu, selamanya. Ternyata kehendak takdir tak senada dengan harapannya.

Kini hampir genap tujuh tahun sejak kepergian lelaki itu. Segala benci dendam beradu dalam batinnya. Bertahun-tahun mengakar di pembuluh darahnya, mengacaukan realita alam pikirnya. Ia bertanya pada siapa saja dan apa saja tentang keberadaan lelaki itu. Dan pada tiap tanyanya ia selalu bertemu kepiluan lagi dan lagi. Di sana ia tertawakan dirinya sendiri, betapa bodohnya ia. Ia tangisi dirinya sendiri, betapa  malangnya ia.

Ia tak peduli pada siapapun, seperti orang-orang tak mempedulikannya. Buktinya, ketika ia berteriak-teriak di halaman rumahnya memanggil nama lelaki itu, tak satu orangpun membantunya. Ketika ia menangis, tak satupun orang berempati padanya. Yang hadir justru Pangkur, bocah berwajah polos yang sangat ia benci. Pangkur dengan keluguannya menjulurkan tangan padanya.

“Ibu.” Pangkur memanggilnya.

            Sungguh, dalam sisa-sisa hatinya ada segenggam rindu pada bocah itu. Baru kali ini ia mendengar dengan begitu jelas sapaan “ibu” padanya. Sapaan yang terlontar dari mulut kecil dan tak berdaya itu. Seketika waktu yang gaib melambat. Ia dan bocah itu disergap kesunyian tiba-tiba. Mereka beradu pandang. Dalam diamnya masing-masing, mereka sedang bersenda gurau. Berlarian di atas gemintang dan awan-awan beraromakan kasturi.

Di antara semilir angin yang membelai rambutnya, ia rasakan  dengan segenap jiwa raga ketika tangan mungil bocah itu menyentuh kulitnya, menggamit tangannya. Ada kedamain di sana. Genggaman kecil yang meletupkan daya magis, menyelisip masuk ke palung perasaannya. Wajah yang ia benci bersinar kian terang. Setitik cahaya berpendar melewati butiran air yang keluar dari mata bocah itu, menjadi pelangi panca warna. Ia mendengar isak napas bocah itu semakin memburu. Bocah serupa lelaki itu sesenggukan di hadapannya.

“Aku... seorang ibu...?” gumamnya yang dibalas anggukan kecil bocah itu.
           
Seketika kedamian itu mengabur, “Orang gila... orang gila...” teriakan segerombol anak membahana, “anak orang gila... anak orang gila...” lanjut mereka membuyarkan segalanya.
            Pangkur dengan kaki kecil berlari mengejar mereka, melempari mereka dengan batu. Anak-anak semakin terkekeh mengejek melihat tingkah Pangkur.

            “Ibuku bukan orang gila!” tangis Pangkur pecah.

            Dengan tertatih ia hampiri Pangkur. Ia lihat bocah itu terduduk dan menunduk. Tangisnya menyayat luka hatinya semakin lebar lagi. Di kejauhan anak-anak melenyap di antara tawa mereka. Ia jatuhkan dirinya, duduk di samping Pangkur.

            “Ibu di sini.” bisiknya.

            Ia usap kepala mungil bocah itu. Ia rebahkan tubuh kecil itu ke tubuhnya. Erat-erat ia memeluknya. Semakin erat dan erat. Tangannya menelusur ke leher lalu mencengkeramnya. Semakin kuat dan kuat. Senyum duka menyembul dari bibirnya.

            “Jangan menangis lagi! Tidurlah! Ibu menjagamu di sini.”

            Ia pandangi mata anak itu dalam-dalam. Di sana hadir bayangan lelaki bermata licik itu. Semakin kuat ia mencengkeram leher bocah itu. Terdengar suara kemerosak ketika kaki kecil itu menendang-nendang daun kering di tanah. Tangan mungilnya mencoba menahan cengkeramannya yang kuat, tapi nihil. Tenaganya terlalu kuat untuk anak sekecil itu.

Sesaat kemudian yang terjadi adalah hening. Hening. Hening. Tak terdengar lagi desah napas bocah itu. Tubuh kecil itu terkulai layu di tanah, tak bergerak lagi. Ia menangis. Tangisan yang memecah semesta langit.



Sangen, Madiun
16 Januari 2018
12.35

0 komentar:

Posting Komentar

 
;