Selasa, 23 Januari 2018

Kolor Laten

Jika dalam ilmu fisika, kalor laten adalah kalor yang diperlukan oleh satu kilogram zat untuk berubah wujud, yang mana kalor laten disebut juga dengan kalor tersembunyi. Lalu bagaimana dengan kolor laten? Sederhananya adalah kolor yang diperlukan untuk berubah. Berubah secara tingkah laku.

Percayalah, bagi “sebagian besar” laki-laki mungkin juga wanita, saya tidak tahu karena saya laki-laki, pemilihan sebuah kolor sangat berpengaruh pada berlangsungnya aktivitas dalam sehari. Seperti yang saya katakan, kalor dapat merubah benda sementara kolor dapat merubah sikap. Salah memilih kolor bisa berdampak buruk. Pernahkah anda memakai kolor yang ternyata karetnya sudah melar? Jika pernah, saya kira anda juga pernah merasa sangat tidak nyaman dengan itu. Berkali-kali kita akan disibukkan dengan membetulkan kolor yang terus melorot. Atau mungkin lebih parah lagi, membetulkan letak karet kolor di pantat atau selakangan yang sudah tidak bisa lagi menjalankan fungsinya dengan baik. Jika kegiatan anda hanya di rumah atau bekerja dengan benda mati seperti di depan komputer, hal itu tak jadi soal karena anda bisa memperbaiki letak kolor sesering yang anda mau. Tapi jika anda berkerja dengan banyak orang, ceritanya akan lain. Sikap dan tingkah laku anda bisa berubah seiring usaha anda menahan ketidaknyamanan karena terganggu kolor melar. Meskipun kolor bertempat di bagian yang sangat tersembunyi, tetapi mempunyai pengaruh yang cukup besar. Solusinya gampang, sebelum mengawali kegiatan pilihlah kolor yang memang benar-benar bagus dan sesuai dari almari anda. Intinya adalah memilih dengan bijak.
           
Jadi, memilah sebelum menjatuhkan pilihan itu penting karena salah memilih bisa berdampak tidak baik. Seperti halnya pada pilkada yang sebentar lagi akan dilaksanakan hampir serentak di seluruh Indonesia. Hanya saja, memilih seorang pemimpin daerah tak semudah kita memilih kolor untuk dipakai. Memilih kepala daerah butuh kejelian dan kepekaan. Jangan hanya karena berdasarkan pada nilai-nilai rupiah atau politik praktis. Biasanya yang seperti itu akan membuat kita tidak nyaman bukan hanya sehari tetapi lima tahun ke depan. Jika memilih kolor kita dapat melihat bentuk dan wujudnya, memilih kepala daerah kita akan dihadapkan pada hal-hal abstrak yang gaib. Para calon akan menyajikan kita janji-janji. Kita diminta untuk meraba-raba apa yang menjadi unggulan mereka sebagai seorang yang akan memipin kita lima tahun ke depan. Jadi pilihlah dengan bijak, amati, dan perhatikan sungguh-sungguh bukan hanya dengan perkiraan. Karena perkiraan itu sama halnya kita memilih kolor yang tersembunyi dalam celana orang dengan meraba-rabanya untuk mengetahui warnanya apa. Selamat memilih dan jangan lupa pakai kolor.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;