Ketika
sakit perut, hal yang harus diingat dan diwaspadai adalah makanan apa yang
masuk ke dalamnya. Itu penting karena apa yang kita makan akan diproses di
dalam perut sebelum sari patinya diedarkan ke seluruh tubuh dan sisanya
dibuang. Jadi, kalau perut kita sakit hampir bisa dipastikan ada yang salah
dengan makanan kita. Makanan yang baik kecil kemungkinan untuk membuat perut
kita sakit, tapi makanan yang buruk bisa jadi bukan hanya membuat perut sakit
tapi juga merusak organ tubuh yang lain. Memilah dan memilih makanan itu
penting karena hal baik akan menghasilkan yang baik, begitu pula sebaliknya.
Tuhan memberkati kita dengan sistem
tubuh yang luar biasa hebatnya untuk dapat beradaptasi dalam kondisi apapun. Walaupun
begitu, sebaiknya kita tidak semena-mena memasukkan sesuatu ke dalam tubuh.
Seringnya kebanyakan dari kita masa bodoh dengan apa saja yang masuk, dan
akibatnya tubuh kita akan bekerja lebih berat dan bukan tidak mungkin akan
terjadi hal yang tidak baik seperti perut yang sakit karena makanan yang buruk.
Bukan hanya makanan yang perlu diperhatikan sebelum masuk ke dalam tubuh kita, segala sesuatu di sekitar kita juga perlu diperhatikan. Karena seperti makanan, segala hal yang masuk ke dalam tubuh kita akan diproses dan akan berefek pada tubuh kita. Jika yang masuk baik maka efeknya pun baik pula, jika yang masuk buruk efeknya pun buruk. Apa yang ada dalam kepala kita adalah hasil proses dari berbagai macam informasi yang kita baca, dengar dan saksikan setiap harinya. Dari sanalah otak menyerapnya lalu mengeluarkannya lagi lewat obrolan, dari mulut atau jari-jari ketika mengetik keyboard HP dan laptop. Masalahnya yang terjadi belakangan ini adalah kita amat sangat sulit memilah mana informasi yang baik dan mana informasi yang buruk. Semuanya bercampur aduk jadi satu. Adanya media sosial menjadikan setiap orang dari berbagai kalangan bisa mengakses dan menyebarkan informasinya yang membuat silang sengkarut antara fakta dan opini pribadi. Hampir segala bentuk informasi bisa kita dapatkan dari sana, mulai dari berita, hiburan, guyonan, dan bahkan hujatan serta caci maki.
Bukan hanya makanan yang perlu diperhatikan sebelum masuk ke dalam tubuh kita, segala sesuatu di sekitar kita juga perlu diperhatikan. Karena seperti makanan, segala hal yang masuk ke dalam tubuh kita akan diproses dan akan berefek pada tubuh kita. Jika yang masuk baik maka efeknya pun baik pula, jika yang masuk buruk efeknya pun buruk. Apa yang ada dalam kepala kita adalah hasil proses dari berbagai macam informasi yang kita baca, dengar dan saksikan setiap harinya. Dari sanalah otak menyerapnya lalu mengeluarkannya lagi lewat obrolan, dari mulut atau jari-jari ketika mengetik keyboard HP dan laptop. Masalahnya yang terjadi belakangan ini adalah kita amat sangat sulit memilah mana informasi yang baik dan mana informasi yang buruk. Semuanya bercampur aduk jadi satu. Adanya media sosial menjadikan setiap orang dari berbagai kalangan bisa mengakses dan menyebarkan informasinya yang membuat silang sengkarut antara fakta dan opini pribadi. Hampir segala bentuk informasi bisa kita dapatkan dari sana, mulai dari berita, hiburan, guyonan, dan bahkan hujatan serta caci maki.
Kabar jeleknya adalah dari sanalah kebanyakan kita mencari
informasi. Ibarat kata menggali informasi dari media sosial sama halnya kita
sedang mengorek-ngorek tempat sampah untuk mencari makanan. Bukan berarti media
sosial itu buruk, tetapi karena di sana sudah begitu banyak orang membuang
sampah. Segala hal bercampur aduk di sana. Mereka mendapat makanan dan langsung
membuangnya tanpa adanya proses pencernaan terlebih dahulu. Sebagus apapun
makanannya ketika dibuang akan menjadi busuk, kecuali makanan dengan bahan
pengawet. Dan itupun juga buruk bagi kesehatan. Jadi tak heran jika saat ini
banyak orang keracunan kata-kata dan kalimat. Seakan mereka adalah seorang ahli.
Jangan heran jika sekarang kita bisa menemukan mereka, para
ahli dadakan ini, bertumpuk-tumpuk tumpang tindih di timbunan sampah kata-kata
media sosial. Mereka akan sangat piawai ngomong soal politik, pandai berargumen
jika diajak debat agama yang seakan memiliki pengetahuan amat luas. Apakah
kenyataannya mereka memang benar-benar pandai, entahlah? Mungkin mereka memang
benar-benar pandai, tapi saya yakin hanya sebagian kecil. Sebagian besar dari
mereka adalah seperti tong yang berisi angin, nyaring bunyinya. Dan angin
memang harus keluar daripada masuk angin, dengan bau yang tak sedap.
Mungkin mereka seperti saya yang sedang sakit perut karena
salah makan, hanya saja bukan perut mereka yang sakit tapi otak mereka. Sakit
karena salah makanan atau bahkan keracunan informasi sehingga membuat mereka
kehilangan akal. Sayangnya mereka tak sadar kalau mereka sedang sakit, jadi
susah untuk diobati.
Dari pada kita mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencari
mana yang baik dan buruk untuk tubuh kita lebih baik membaca buku sajalah. Buku
yang memang sudah diyakini kebaikan. Makanan yang baik akan menjadikan tubuh
menjadi sehat dan tentunya berkualitas untuk kehidupan. Makanan yang buruk akan
membuat tubuh sakit, percayalah, hal itu tidak enak dan sangat merugikan.

0 komentar:
Posting Komentar