Rabu, 14 September 2022

Madiun Sabtu, 2 Juli 2016

Sabtu, 2 Juli 2016

Madiun

               Lama sudah tak kutengok buku ini. Tiba-tiba hatiku tergerak untuk menggoreskan sesuatu.

…. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Ia perkasa dan menggilas apa saja yang dilaluinya tanpa peduli. Ah… waktu, aku selalu takjub padamu. Kau menyatukan, mempertemukan, memisahkan dan segalanya tanpa peduli perasaan orang.

              10 tahun sudah aku mengenalmu. Begitu banyak hal terlewati. Kala itu kita mulai membangun mimpi bersama. Tertatih dan terseok untuk sekedar membuktikan pada dunia bahwa kita mampu. Huh… lucu memang… segala sesuatunya berjalan tak seindah di angan. Begitu banyak hal sulit datang namun kita mampu melewatinya. Banyak mukjizat tanpa kita sadari yang sampai detik ini aku masih belum bisa menalarnya.

              Tanpa kita sadari, satu persatu keinginan kita terwujud. Itulah yang kusebut mukjizat. Dan hal terbodoh sepanjang perjalanan ini adalah, kita berani mengambil perumahan. Padahal pendapatanku saja hanya sepertiga angsurannya. Lalu bagaimana lagi…? Ya sudahlah.

              Hadirnya Adek adalah mukjizat yang menjadi alasan untukku terus bergerak. Aku mencoba menerka belantara asa yang masih kabur ujungnya, tak terprediksi dalam otakku seperti apa. Tapi aku yakin, esok akan selalu ada jalan. Hidup kita memang penuh dengan kenekatan, dan mungkin kontrolnya cuma 5 persen. Itulah mengapa Adek punya daya kenekatan lebih besar dari pada anak lainnya. Memang itu ada dalam darah kita.

              Sering aku memprotes, meski dalam nurani, tentang hidup dan kehidupan. Lihat saja orang lain yang begitu mudahnya menjalani kehidupan. Mereka begitu teratur dan tertata segala sesuatunya. Ya… sepertinya sih… Sementara aku harus memutar otak, menyiapkan seluruh raga dan batinku, fisik dan psikisku hanya untuk sekedar menjaga bangunan yang telah kita rawat. Bekerja dengan mengandalkan kreatifitas bukan sesuatu yang mudah. Malam aku harus banyak terjaga untuk meramu ide. Lalu yang jadi pertanyaanku adalah, sampai kapan aku mampu seperti itu? Entahlah… apakah selamanya harus seperti itu. Bukan aku tak suka, namun hanya pertanyaanku takut tentang masa depan yang belum pasti. Jika aku sudah tak mampu berkarya lagi nanti bagaimana dengan bangunan pondasi kita…

              Ah sudahlah… kau tahu kan aku selalu malas mengungkit dan berkata panjang lebar. Aku hanya ingin terus bergerak. Karena sejatinya hidup adalah perubahan. Aku tak mau jadi pengecut yang bersembunyi. Aku ingin menjadi pejuang bagaimanapun terjalnya jalan yang kulalui. Masa bodoh terjatuh, persetan tertatih-tatih, aku akan bangkiti kembali.


0 komentar:

Posting Komentar

 
;