Selasa, 01 November 2022

Sial, Aku Mengumpat Lagi Pada Waktu

Pada titik ini aku kembali limbung. Terus berjalan tanpa tujuan atau berhenti? Untuk kembali lagi, semangatku sudah tak semembara dulu. Aku bukan pejuang, aku hanya pecundang yang menyembunyikan ketakutanku pada rutinitas. Berkali-kali aku menyalahkan waktu dengan segala sumpah serapahku. Apa yang dulu aku perjuangkan masih kabur dari bayangan, tak seperti harapan. Hidup dan menghidupi teater nyatanya kecil peluangnya untuk masa depan. Banyak hal yang harus aku pikirkan. Ada keluarga yang menunggu di rumah. Itu yang perlahan memadamkan bara api dalam hatiku. Tapi kenyataannya berjalan limbung di jalan ini sama pusingnya. Memikirkan tentang masa depan anak-anak yang entah nanti bagaimana.

Sial… aku mengumpat lagi pada keadaan. Tulisan inipun juga bertema sama dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Aduh… sampai kapan umpatan ini akan berakhir? Apa pada akhirnya aku hanya akan menyalahkan diri sendiri dan keadaan? Entahlah… entahlah… dan entahlah… selalu entah ujung dari kalimat-kalimatku.

Ya… aku memang menyembunyikan kebencian, kegamangan, ketakutan, dan segala hal pada rutinitas. Seakan rutinitas yang sebenarnya tak kuinginkan jadi tempat pelampiasan semua kemarahan dan keruwetanku. Aku cuma berjalan satu arah, begitu saja. Tanpa tahu tujuan dan tanpa mau peduli apapun lagi.

Memutus hubungan dan kabar dengan teman-teman teater adalah salah satu cara untuk meluapkan semua perasaan itu. Bukan pada personalnya yang aku benci, aku hanya ruwet pada pikiranku sendiri. Aku merasa kehidupan teater tak memberi feedback yang cukup untuk hidup ke depannya. Aku merasa mengambil jalan yang salah untuk berjuang. Tak aku pungkiri bahwa dulu teater juga hanya menjadi tempat bernaungku melampiaskan kekesalan dan ketidak tahuan akan jalan mana yang harus aku ambil setelah lulus SMA. Kini sedikit demi sedikit teater mulai aku tinggalkan. Semangatku sudah tak semembara dulu lagi.

Belajar hal baru, membunuh waktu dengan menghabiskannya berjam-jam di depan komputer juga sepertinya akan memakan banyak waktu. Otakku menjadi penuh dan tak terkontrol. Aku menjadi sadar bahwa sepertinya aku memang bukan apa-apa dan siapa-siapa. Jujur aku sedang krisis identitas diri. Aku tak tahu siapa jati diriku sebenarnya. Aku hanya seonggok daging yang berjalan begitu saja. Dan kini aku 35 tahun menuju 36. Semoga nanti tidak ada yang mengingatkanku jika aku berulang tahun. Lalu seperti biasa, semoga… semoga saja… dan harapan hanya akan menjadi harapan. Membusuk di sudut hati yang sepi.

 

Madiun, 1 November 2022


0 komentar:

Posting Komentar

 
;